Powered By Blogger

Minggu, 29 Maret 2009

Maafkan aku
Jika hingga hari ini aku belum berpikir tentang rasa
Kupelajari perjalanan hati
Mengapa selalu harus aku yang tersesat?
Meraba-raba tentang tafsir dan arti merasa
Beberapa telah datang
Hinggap dan menawarkan pesona
Lalu, aku membuta
Menyembunyikan kata di dasar nurani
Satu persatu pergi
Lantas, mengapa harus menangis jika tak pernah menerima?
Entah dengan cinta
Entah dengan dusta
maafkan aku
Jika susah untuk terlupa
Terima kasih untuk tak lagi menyapa
Jika memang segalanya bertaut
Biarkan aku kalah dalam kewajaran
Aku hanya ingin segalanya pantas dan bermakna...

15 Desember 2008
bwt smw yg pernah merasa tersakiti
Ungu, biru, lalu kelabu
Aku terjatuh, bangun, tertatih dan terjatuh lagi
Siang, malam, gelap dan terang lagi
Siapa aku dan berapa waktu
Sabit, purnama, lalu tinggal setengah
Satu, dua, lima belas, tiga puluh
Entah
Tak tau dan tiada mengerti
Panas lalu hujan
Lantas, mengapa tiada pelangi?
Senyum, tawa, amarah kembali
Bagaimana aku harus memahami???

Ruang B5, 16 februari 2009
Aku masih di sini malam ini
Masih dalam kebohongan yang dicipta purnama
Ah! Aku benci
Mengapa aku tak dapat pergi?
Meninggalkan mimpi yang sama sekali tak berarti

Aku masih di sini malam ini
Membawa hati yang merasa disakiti
Entah karena apa, entah karena siapa
Aku tak pernah mengerti
Juga pada purnama! Yang menjanjikan pergantian hari

Aku masih di sini malam ini
Masih di bawah purnama
Yang terus mengikutiku
Aku juga belum mengerti
Apa yang telah terjadi
Pada hatiku dan sejuta nurani
Yang ada dan bertebaran di sini malam ini...

24 November 2007
19:30 dst
Ini tentang bintang ketika ia tak lagi datang
Bahkan satu bintang yang tak ada lagi di langit petang
Mengapa dia?
Adakah takut pada purnama?
Atau pada hatiku yang selalu mengutuknya?


Duh!! Bintang...
Kemana kau saat malam semakin kelam?
Kemana kau saat aku berjalan di bawah redup sinar bulan?
Mengapa hanya ada kejauhan?
Adakah langitku terlalu hitam untuk kau bayangkan??


Duh!!...Bintang..
Maafkan aku untuk satu kesalahan
Jika memang ternyata harus tak ada perasaan
Lalu, mengapa sekarang..
Ada suara-suara yang mengusikku
Yang ternyata berasal dari rumahmu
Rumahmu yang terlalu jauh
dan tak pernah terlanjur kutempuh
Rumahmu di langit yang biru...

24,25,26 Desember 2007
Dan hari-hari sebelum dan sesudahnya semenjak itu..
Hari ini bukan tentang bintang
Karena dia telah kuhempas dan ingin kulupakan
Tak ada lagi, karena hatiku terlalu kotor untuk itu
Telah kucoba, hampir berhasil
Tapi hari ini bukan lagi tentang bintang
Tapi tentang sesuatu yang belum kutau namanya
Mengapa dia mengusik hatiku?
Apa dia mencoba menjamah jiwaku?
Atau hanya ingin menguji sebuah keteguhan??

Ohh..
Bintang
Lagi-lagi aku harus menyapamu
Karena kau tau, ini juga bertali denganmu..
Allah, maafkan Nida...

Dalam gemuruh hati
untuk seseorang di puncak menara
7 januari 2008
Dan dalam setiap detik itu,
mengapa harus gundah?
Seandainya sesuatu telah pergi sejak kemarin,
maka tak ada hak untuk menangis
Segalanya bermula dari kesalahan
Saat kau tumpahkan segala tanya tentang suara
Lalu, kau layangkan harap pada udara
Mengapa tersenyum, Nida?
Saat kau pulang dari jalanan suci
Saat kau dapati sesuatu yang pernah kau harap pada udara
Lalu, kau lanjutkan ceritamu hingga malam terus larut
Tak ingatkah, kau Nida?
Betapa malam itu bumi beguncang
Sesaat setelah kau hentikan ceritamu bersamanya
Tidakkah kau sadari bahwa Allah telah langsung menegurmu malam itu?
Memang, aku tak dapat sepenuhnya menyalahkanmu
Saat esok dan seterusnya dia berkata tentang hal yang sebenarnya kau pinta
Lalu, kau teringat akan makna kemunafikan
Dan ternyata, dia masih terlalu jauh dari sekedar kata paham
Bukankah kau terus meyakinkannya saat itu?
Meski hatimu terus saja kau bohongi
Dan hari ini, juga sejak kemarin
Mengapa gundah, Nida?
Bukankah itu lebih baik?
Kukira, sedikit bohong itu tak mengapa bagimu....

26 Februari 2008
Hidup menawariku pilihan
dan aku harus memilih
Dan harus siap
Dengan ini, dengan segalanya
Bukankah Nida telah dewasa, Dik?
Ya, mudah-mudahan
Seperti yang biasa kau katakan
Bukankah tua itu wajib
Dan dewasa adalah pilihan?
Pandangi, Nida...
Jalanan yang untuk malam ini
Pertama kali kau jalani
Pandangi, Nida..
Bintang-bintang dan sabit itu
Tuliskan namamu di salah satu bintang itu
Sampai jumpa, kotaku
Doakan aku selamat
Hingga dingin membangunkanku...

Bna-Medan, 8 Agustus 2008
Bintang-bintang itu tak pernah tepat jatuh di hatiku. Hanya bergesekan saja, menimbulkan percik cahaya bak meteor ketika tiba di atmosfer. Bintang-bintang itu memiliki warna yang berbeda. Menetap di orbit yang tiada sama. Aku tak pernah benar-benar menyusuri jalan-jalan mereka. Hingga tak terdeteksi tentang kepura-puraan ataupun dusta. Bintang-bintang itu mendekat satu persatu. Menjetikkan ujung-ujung jari mereka di perbatasan hatiku. Tak pernah ada yang jatuh tepat di hatiku.
Bintang-bintang itu memiliki jalan yang berbeda. Hingga hari ini aku tak dapat melihat yang terbaik. namun satu bintang di langit petang telah lebih terang sejak kemarin. Sejak lintasannya semakin panjang untuk disusuri. Tapi aku tau, bintang di langit petang bukan untukku. Setelah aku semakin diubah, masih bisakah aku mengharapkan satu bintang lain yang lebih baik?Untuk kujatuhkan tepat di hatiku.Entahlah.....

13 November 2008
to all stars in my sky
especially my bright star...
Jelaskan padaku bagaimana aku harus membendungnya. Aku rindu Bunda, Ayah, Adik2, Nenek, semuanya.
Aku ingin pulang, tapi katanya belum waktunya. Memeluk bunda dan mencium tangan ayah. Tadi Ayah ma Bunda telpon, katanya di rumah maulid, Nak..
Kapan pulang???
Ah, harus bagaimana nanda menjawab??
Apa saja yang telah berubah sejak aku pergi??
Yang jelas aku tak pergi terlalu lama. Tapi aku tau, begitu banyak yang terjadi di sana tanpaku. Bunda, ga lama lagi OJT. Katanya, peluang untuk ke Aceh sangat kecil. Gimana Bunda, Ayah??
Haruskah qta terpisah dengan waktu yang tak terbatas?
Bagaimana bunda sendiri di rumah saat ayah pergi?? Jagain adek2..
Bunda, klo emang qta harus jauh, doakan anakmu..
Ayah, Nida sayang kalian..
Nida rindu berat malam ini......
Kutulis ini ketika aku telah berhenti menangis....
Allah tau betapa aku mencintainya...
Aku ingin memeluk bunda....
Ayah, bagaimana??
Anakmu tak bisa berhenti menumpahkan air mata.....
Aku tak dapat membaca pertanda...
Memang aku bukan siapa-siapa...
Hanya Nida....
Maafkan Nida.....

Tante Hasni....
Tante terbaikku....
Maaf anakmu menangis di sini hari ini..
Sendiri dari kejauhan....
Nida ikhlas....
Kata Om Bona, Nida ga boleh nangis lagi, Nak....
Takdirnya memang hari ini engkau harus pergi....
Biarkan aku melepasmu dengan doa....
Yang kubaca dalam kesendirianku di sini...
Akhirnya, aku tak dapat melihatmu di hari kau meninggalkanku...
Terima kasih untuk segalanya...
Untuk kasih sayang sejak kecil, untuk pelajaran2 membaca yang indah...
Untuk ilmu tentang segala hal.....
Untuk pelajaran bahasa Inggris, untuk nasehat, untuk segalanya....
Nida janji bakal jaga Gadis dan adik bayi....
Nida janji jagain nenek dan semua...
Nda janji bakal jadi keponakan cewek tante yang baik....
Makasih bwt segalanya,,,,



Allah, terima tante Hasni di sisiMu...
Di tempat terindahMu......


Tuntungan, 2 Maret 2009
Saat bersuara diharamkan
Saat nyali dilumpuhkan
Saat langkah ditentukan
Maka apa jadinya aku?
Aku terbelenggu
Terkungkung dalam hampa
Segalanya berjalan begitu-begitu saja
Tuhan...
Inikah penjara?
Adakah jalan untukku pergi?
Tapi kata mereka aku harus bertahan
Bukankah aku telah mengikat janji sebelum aku bermimpi??
Bertahanlah, Nida...
Aku selalu menjagamu melalui udara...

Ruang Makan, 27 Februari 2009
09.00 p.m


Aku mendengar dalam diam
Beribu kata mengalir dan entah dimana akan bermuara
Hanya bisa duduk, diam
Atau mungkin terkadang tersenyum melalui perintah...
Apa kuasaku?
Tak ada..
Dan terpakulah aku bersama puluhan jiwa
Mungkinkah ada yang sedang bermimpi di antara kita??
Entah, Nida...

Aula, 38 februari 2009
10.15 a.m.
Ngantuk dengar Mr. Circle..



Kalau ada prajab abadi, itulah kami...
Kalau ada prajab yang ditinggal pergi juniornya, itu kami juga...
Kalau ada prajab yang samaptanya ga pernah ditutup, itu juga kami..
Kalau ada prajab yang asik gonta- ganti senat, itu kami...
Entahlah...
Kami semua...
Dua minggu lagi katanya...
Sebelum keluar, ya Samapta lagi...
Kalau ada prajab yang lari siang lagi, itu kami juga lo....
Hmm...
Dua minggu lagi, katanya...
Setelah itu, entah bagaimana....
Mungkin aku hendak dikirim ke Timur tengah....
Jadi pasukan penjaga perdamaian....
Atau mungkin bakal jadi sipir di penjara Guantanamo...
Atau bantuin Taliban, Al Qaeda....
Entah....
Malam tadi, ada pelangi...
Bukan untuk Nida, sayangnya..
Bagaimana mungkin ada pelangi di langit malam, sayang???
Entah...
Nida tak mengerti....
Bukankah kami terlahir di waktu yang sama??
Tetapi mengapa harus mereka yang lebih dulu pergi??
Dan aku, tersisalah di sini
Bergelut di jalan yang entah di mana berakhir....
Kapan kutuntaskan segalanya??
Apakah mungkin esok???
Atau memang aku tak pernah tau kapan dan bagaimana harus aku mengkhatamkan kisah ini...
Karena hingga detik ini, tak ada kata yang bisa mengakhirinya.....


Tuntungan, 24 Februari 2009
Ikhlas itu tanpa tapi...
Apakah masih tersisa sedikit saja rasa itu di hati seorang Nida??
Ntah lah...
Bagaimana bisa ikhlas atas ketidakadilan yg sengaja diciptakan??
Lagi2 Nida terjjebak..
Kali ini tentu saja lebih rumit dr labirin cinta...
Halalkah rasa benci yang ada di hati Nida sekarang??
Nida pengen nangis....
Tapi katanya air mata Nida terlalu berharga untuk menangisi ini...
Nida ga tau, apakah hati ini masih bisa bertahan hidup sampai esok pagi.........

Tuntungan, 23 Januari 2009
AkhiRnya KusaKsikan puRnama ke tujuh di bawaH langit yanG sama...
SiNarNya menertawakanku daRi baLik ranting-ranting kecil
Kau masih di sini, Nida??
Jelas saja aku masih di sini..
Di bawah langit yang sama seperti purnama-purnama sebelumnya..
Bukankah aku memang telah mengingkari hitungan purnama??
Oh...
Berikan aku suatu kepastian
Apakah ini purnama terakhir yang harus aku lewatkan di sini?
Sudah tujuh purnama aku pergi..
Manggoreskan tinta-tintaku di lembar yang sama sekali beda
Di sini, aku menangis sendiri
Entahlah....
Aku tak tau bagaimana berikutnya...
Apakah aku memang harus terberai denganmu hingga purnama yang tiada akhir?
Telahkah aku dewasa??
Purnama ketujuh mengikutiku...
Aku tak dapat menerjemahkan sinarnya
Biarlah berjalan sebagaimana mestinya...
Aku telah berjanji menerima segalanya....
Terima kasih Allah....

Tuntungan, 10 Maret 2009
8.30 p.m
Dia seperti gempa bumi
Yang tak pernah berkata, kapan waktu untuk datang
Langsung saja datang
Memporakporandakan dinding hati
Yang telah dibangun dengan sejuta pengorbanan
Dia seperti hujan
Yang tak pernah peduli, di mana tempat untuk turun
langsung saja turun
Membanjiri ladang hati
Yang telah ditamnami dengan sejuta pengharapan
Dia seperti bulan dan matahari
Yang tak pernah saling tau, di mana tempat untuk sembunyi
langsung saja sembunyi
Menggelapkan sebuah hati
Yang telah diterangi dengan sejuta pelita
Dan hati, selalu terdustai
Dibohongi oleh sebuah situasi
Dan aku, terletak di sini
Di antara hati itu...

1 November 2007
Adakah kau teringat? Saat pertama kita berjumpa di satu jalan bintang Bersama, mengikrar janji di bawah mentari Bersama, merangkai mimpi dan mewarnai pelangi Akankah kau terlupa? Saat kita mulai melebur hati dan saling memahami nurani Meski tak sempurna, namun di separuh jiwa ini telah terpancang rasa memiliki Saat terluka dan mengurai air mata, kita ada di sini untuk bersama Saat waktu menangguhkan untuk bertemu yang tercinta, Kita ada di sini untuk merindu bersama Duhai... Betapa indahnya nuansa ini Apa peduli pada kaki yang tertatih? Jika kebesaran jiwa dapat membawa berlari di jalan juang Namun, suatu saat memang ini yang harus terjadi Perjalanan waktu harus membedakan dimensi Kau harus pergi Dan hatiku tersisa di sini Melanjutkan sepenggal peperangan masa depan Pergilah... Untuk mengejar mimpimu Dan tinggalkanku Berjanjilah pada dunia, untuk selalu mengingat kami dalam doamu... Terima kasih untuk segala yang tercipta....

Perpisahan WILSU
Tak dapat kubayangkan, saat esok aku terbangun, aku tak lagi dapat menemuimu. Engkau yang telah menemaniku melintasi waktu selama tujuh purnama. Tak perlu kau tertawakan air mata yang tertumpah tadi malam. Karna aku tau, kau akan merasakan hal yang sama denganku.
Dan entah kemana kita terberai setelah hari ini. Akankah ada yang kau kenang dari hari-hari yang berlalu?
Biarkan aku selalu menyapamu melalui puisi. Karna mungkin, tak ada waktu untukku berbagi udara denganmu lagi. Terima kasih atas indahnya hubungan. Biarkan aku memeliharanya seindah yang aku bisa.
Dan kemanapun kita esok,
Allah hanya mewakilkan satu matahari untuk menerangi jalanku dan jalanmu.
Meski kita menyaksikannya dari sisi langit yang berbeda.
Dan jika tak ada lagi harapan untuk dapat bersua kembali,
maka ingatlah aku dalam doamu....

LUV U ALL COZ ALLAH....


Tuntungan, 24 Maret 2009
Biarkan aku mengkhatamkan episode ini...
Begitu lama aku melakonkan peran dalam skenario ini..
Berikan sedikit saja jeda untukku pulang memeluk kenangan..
karena aku tak pernah tau,
di bawah langit mana aku akan benaung kemudian..
Memulai lagi hitungan purnama dari pertama...
Akankah indah??
Entahlah, Nida......
Namun aku berjanji...
Akan selalu menyapamu melalui puisi...

Tuntungan, 20 Maret 2009
Aku lelah, Nida..
Hari-hari kita semakin tua
Aku terjebak dalam putaran waktu
Terbengkalai dan terombang ambing
Remuk redam hatiku
Wahai..
Sang segala
Bimbing aku di jalanMu
Dekap aku dalam pelukMu
Duhai..
Engkau Yang Maha
Hapus penatku dengan kasihMu
Hapus air mataku dengan cintaMu
Aku merindu
Pada segala harum damai
Aku merindu
Pada segala wewangian damai
Ya Allah..
Aku rindu ketenangan

Kamar 304,14 September 2008
Aku lelah, Nida..
Hari-hari kita semakin tua
Aku terjebak dalam putaran waktu
Terbengkalai dan terombang ambing
Remuk redam hatiku
Wahai..
Sang segala
Bimbing aku di jalanMu
Dekap aku dalam pelukMu
Duhai..
Engkau Yang Maha
Hapus penatku dengan kasihMu
Hapus air mataku dengan cintaMu
Aku merindu
Pada segala harum damai
Aku merindu
Pada segala wewangian damai
Ya Allah..
Aku rindu ketenangan

Kamar 304,14 September 2008

Baru saja aku jatuh cinta padanya
Belum sempat aku memahami segala makna darinya
Masih terlalu sedikit kuhabiskan waktu dalam peluknya
Ohh...
Betapa hampa
Terbang segala tenang
Yang dulu hadir menyapaku di sepertiga malam..
Kemana aku, cintaku?
Aku dihempas lelah, penat
Segala suara menyulut semangat
Namun cintaku
Hilang tiada rimba
Ke mana sadarmu, Nida?
Dan dalam lelah..
Betapa ingin aku menemuinya
Namun aku terhimpit masa
Sebuah cinta dalam tahajudku
Pergi entah sampai kapan
Allah..Bangunkan Nida..

Kamar 304, 17 september 2008
Mengapa tak bawaku terbang??
Memeluk pelangi
Menyapa matahari
Duhai..
Dikau yang di sana
Adakah sesuatu untukku?
Kirim aku senyum
Kirim aku kehangatan
Bolehkah aku menjerit?
Menghempas segala penat yang tersesat
Aku lelah
Sunnguh...
Tapi katanya aku harus bertahan..

12 Oktober 2008
Tersesat aku di jalanan ini
Terseok aku di liku ini
Terbengkalai hatiku di sini
Aku tak cukup mengerti
Tercemar segala percayaku
Maaf, bila hatiku tak lagi sesuci dulu
Ingin aku menyapamu
duhai segala sesuatu yang pernah mengisi hati
Di mana arti bersama?
Entah, aku tak lagi tau
Mereka menjeratku di sini
Dalam pertempuran hati dan fikir
Tak tau aku di mana letak kebenaran
Entah pula dengan kejujuran
Di ucapkah?
Di hatikah?
Di fikirkah?
Atau di tempat yang tidak terjangkau cahaya?
Segala kenyataannya berbeda
Tak pernah ada yang sama
Dan akhirnya, aku memilih diam
Bergulat dengan ruh ku sendiri
Bukankah lebih baik begitu
Ah!!
Diam saja kalian semua
Aku telah belajar mengendalikan hati
Jangan pernah giring aku ke dunia kalian
Beda, sungguh beda
Tentu saja!!
Bagaimana bisa aku mengikuti kalian?
Duniaku sungguh lebih indah dan bermakna
Dan segalanya,
Dan segalanya, hanya untukku
Tersimpan dengan rapi di hati
Begitu indah..
Dan semuanya, tentu saja tak pernah ada di sini
Di tempat pertarungan hati dan fikir ini
Semoga aku bisa cepat pulang ke sana
Dalam penantian
Aku hanya diam saja
Cukup!!
Aku telah mengerti


Udiklat PLN Tuntungan
14 Oktober 2008
Purnama semalam, Nida
Indah, bukan?
Dapatkah kau rasakan, sayang??
Orang-orang yang kau rindukan mewakilkan wajahnya pada purnama semalam
Dalam lelahmu, mereka membagi salam melalui udara
Terbisik dalam diam
Nida, tegaklah berdiri
Tersenyumlah untukku
Purnama semalam, Nida
Rindu mereka menyelimuti dinginmu
terbias pada embun di rumput tadi pagi
Entah sudah di belahan bumi yang mana mereka berada
Semoga masih bisa mereka merasakan nafasku
segala yang jauh..
Segala yang terhalang jarak dan waktu
Aku memanggil kalian hari ini
Datanglah dalam singkatnya mimpiku


to:smw yg terbaik yg pernah hadir dalam hidupku
18 September 2008
Sudah dua purnama kita terberai
Langit kita tetap saja sama
Hanya saja, kita menyaksikan dari sudut yang berbeda
Entah mengapa, menjauh segala
Menyisakan sedikit saja
Cinta yang tak bisa tercerna
Mungkinkah bernama Nida?
Tidak!Tak ada makna
Mengapa terluka?
Tak mengapa, Nida
Purnama kedua
Semakin terang segala cahaya
Semakin jauh aku dan jiwaku
Tak perlu tumpahkan air mata
Karena memang tak perlu ada luka
Purnama kedua
Entah tinggal berapa


Medan, 15 Oktober 2008
Purnama lagi..
Sebentuk rembulan menggantung di langit malam
Mengurangi hitungan dalam perjalanan hati
Yang ketiga kali ini
Datang memupuk segenggam rindu
Kukumpulkan senyum yang terserak
Lalu,
Kutunjuk lagi satu bintang
Ikrarku tetap saja sama
Kali ini di hati saja
Sebentuk rembulan kemudian, tertutup awan hitam
Tetap kugenggam erat setiaku
Langkahku kuat
Berbilang empat lagi saja bertemu rembulan
Kemana hatiku setelah itu
Tegar itu telah mengakar padaku
Jika aku menangis, ialah suatu kewajaran
Purnama, langitku banjir cahaya
Apa kabar rembulanmu?
Temani aku menghitung sisa masa
Semoga cepat berganti di sisi langit yang berbeda

Tuntungan, 12 November 2008
Apakah aku telah lelah menghitung purnama?
Baru empat saja, Nida
Masih bersisa di perjalanan waktu
Nafasku mulai terengah
Seakan seluruh udara tercemar peluh
Tiada lagi kata untuk puisi
Hanya tertinggal hati dengan perih tiada terperi
Duh!!
Aku tak boleh mengeluh
Bila menangis, bolehkah?
Tak hendak lagi kuhitung sisa purnama
Mataku tak sanggup menyapu ujung perjalanan
Kupapah jiwa
Kubesarkan hati
Empat purnama telah berjalan
Tak boleh aku terjerambab
Bukankah akulah yang tersenyum itu?
Semoga saja..


12 desember 2008
Aku hilang bersama puisi
Purnama kelima biasa saja
Membekas hingga panggilan itu
Dan seterusnya, tetap masih ada bersama matahari
Aku hilang dalam kata
Tiada pernah ada kata yang tercipta lagi
Aku lelah memapah hati
Purnama kelima
Sepertinya memang terlalu biasa
Allah memberiku lebih banyak waktu untuk memelihara hari
Terima kasih, Allah
Purnama kelima bertahan di barat
Tetap tersenyum hingga pagi menyapa
Berbisik dia padaku
Selamat ulang tahun, Nida..
Aku akan selalu datang
Sepanjang perjalanan hatimu
Beribu bintang tersenyum bersama purnama
Entah ada Bright star di antara mereka..

12 Januari 2009
Selamat Ultah, Nda..
Selamat malam, Aisyah..
Telah begitu lama jeda yang aku ciptakan
Sejak aku memutuskan untuk tidak menyapamu melalui puisi
Aisyah,
Telah genap hitungan purnama dalam perjalanan hati
Namun taukah engkau, Aisyah?
Aku masih di sini hingga malam ini
Adakah aku telah mengingkari kalkulasi purnama?
Entahlah, Aisyah..
Aku tak mengerti
Selamat malam Aisyah
Purnama ke enam menerangi hatiku
Entah kapan kukhatamkan cerita ini
Menjejak tepian baru
Mencari pelangi bersama matahari
Selamat malam, Aisyah...
Selamat tidur
Moga kita bertemu dalam mimpi malam


Tuntungan, 8 Februari 2009
Selamat malam, Aisyah..
Telah begitu lama jeda yang aku ciptakan
Sejak aku memutuskan untuk tidak menyapamu melalui puisi
Aisyah,
Telah genap hitungan purnama dalam perjalanan hati
Namun taukah engkau, Aisyah?
Aku masih di sini hingga malam ini
Adakah aku telah mengingkari kalkulasi purnama?
Entahlah, Aisyah..
Aku tak mengerti
Selamat malam Aisyah
Purnama ke enam menerangi hatiku
Entah kapan kukhatamkan cerita ini
Menjejak tepian baru
Mencari pelangi bersama matahari
Selamat malam, Aisyah...
Selamat tidur
Moga kita bertemu dalam mimpi malam


Tuntungan, 8 Februari 2009
Pantaskah aku percaya pada sepenggal kata cinta?
Bila hati seorang aku tak bisa meyakininya
Apakah dia adalah benar?
Entahlah...
Aku tak dapat menafsirkan hatinya
Juga mengartikan kata darinya
Jika ia adalah benar,
apa yang harus terjadi dengan nurani?
Mengapa selalu ada labirin cinta?
Dan aku tersesat di dalamnya, entah untuk yang keberapa
Jika aku memang harus terjadi yang terluka,
Tak mengapa
Karena aku ingin mencari cinta yang tidak selazim biasa
Apakah ada pada dia?
Tapi aku masih belum bisa percaya
Pada kata-katanya


304, 27 Oktober 2008
Brother in LG..
Just say what do u want 2 say.....

Dia bernama Nida
Dia yang memiliki segala rahasia
Dia yang belum bisa memiliki sebagian hati
Dia yang mengkhianati sanubari
Dia yang menangis sendiri
Dia yang tersenyum bersama pelangi
Dia bernama Nida
Raganya berdiri di atas bumi
Jiwanya terbang mengejar matahari
Tiada berkepak sayapnya
dia memang tidak bersayap
Dia bernama Nida
Dia yang terluka
Dia yang tercinta
Dia yang tercipta untukku
Dia bernama Nida
Dia adalah aku...

Masjid Ath-Thaiyyibah, 3 November 2008
Aku ingin kau bercerita padaku
tentang negeri-negeri jauh
Dimanakah terletak?
Aku ingin kau mengirimiku udaranya
Sudikah?
Aku ingin menjadi orang yang kau rindukan
Sungguh, tiada lebih
Sebagai sahabat
Akankah?
Ingin aku menyusulmu
Melesat pergi bersama cahaya
Tapi aku tak bisa
Suasana di sini tak memungkinkan
Cukuplah salammu saja
Terima kasih atas segalanya
Aku hanya bisa berdoa
Tidaklah mungkin bagiku
Menyuruhmu cepat pulang
Karena ternyata
Aku juga belum pulang


Ruang B4, Udiklat Tuntungan
7 November 2008
untuk semua yang jauh
Aku tak tau mengapa harus menangis malam ini
Juga kemarin, dan hari-hari sebelum hari ini
Aku tak pernah merasa terluka
Mengapa harus tertumpah air mata jika begitu?
Aku tau, Nida..
Beda itu semakin mencuat
Bertumbuhan sebagai duri yang menusuk dinding hati
Terlalu rumitkah masalah ini, sayang?
Entah di mana kemerdekaan sekarang
Aku memang bukan milikku
Tapi setidaknya, aku dapat menyusuri jalanku
Sedang hari ini, juga sejak kemarin
langkahku ditentukan orang lain
Mereka menggerogoti hatiku dengan entah apa
Mereka membunuh nyaliku
Allah...Kapankah berakhir segala ini?
Ikhlaskanlah hatiku
Sungguh, segalanya karena Mu...
Ridhai langkah dan hatiku, Rabbi...

304, 11 November 2008
Aku tak tau mengapa harus menangis malam ini
Juga kemarin, dan hari-hari sebelum hari ini
Aku tak pernah merasa terluka
Mengapa harus tertumpah air mata jika begitu?
Aku tau, Nida..
Beda itu semakin mencuat
Bertumbuhan sebagai duri yang menusuk dinding hati
Terlalu rumitkah masalah ini, sayang?
Entah di mana kemerdekaan sekarang
Aku memang bukan milikku
Tapi setidaknya, aku dapat menyusuri jalanku
Sedang hari ini, juga sejak kemarin
langkahku ditentukan orang lain
Mereka menggerogoti hatiku dengan entah apa
Mereka membunuh nyaliku
Allah...Kapankah berakhir segala ini?
Ikhlaskanlah hatiku
Sungguh, segalanya karena Mu...
Ridhai langkah dan hatiku, Rabbi...

304, 11 November 2008
Aku bukan Aisyah,
Hanya Nida yang gelisah
Mereka mengenalku sebagai Aisyah
Sebatas nama tanpa wajah
Aku bukan Aisyah
Hanya Nida yang belum dapat menyempurnakan ibadah
Mereka memanggilku Aisyah
Tapi benarkah aku telah menjalankan seluruh syariah?
Aku bukan Aisyah
Hanya Nida yang terlahir sebagai putri ayah
Mereka mengharapkan aku menjadi Aisyah
Telahkah sepenuh hatiku mencintai Allah?
Aku bukan Aisyah
Yang tersurat dalam risalah
Aku hanya Nida yang ingin menjadi wanita shalihah
Aku bukan Aisyah
Cintai hamba, Allah...

11 November 2008
Maaf, bila aku tak bisa menjadi sebagai Aisyah
Dia mencoba menjamah hatiku
Tapi sepertinya memang tak sepenuhnya salahnya
Aku benci pada kemunafikan
Pun aku sendiri yang terus menutupi segala keburukan
Ooh...Engkau yang kukira sangat lebih baik
Mengapa harus aku merenda masalah denganmu?
Juga dengan hatimu, yang lalu terbohongi oleh hatiku
Kukira, kau lebih berwarna dari pelangi
Kukira, kau lebih terang dari matahari
Namun hari ini, kau datangkan angin yang menghempas
Jauh, dari samuderamu yang mungkin tak bertepi
Duhai segala yang terbohongi
Mengapa hidup menjadi sejauh ratusan galaksi?
Aku ingin pergi!! Menenggelamkan wajah dalam persembunyian mentari
Mungkin diapun merasa begitu hari ini
Allah, salahkah aku?
Atau dai yang mencipta prahara?
Maafkan ya Allah
Maafkan kami...

15 Januari 2008
untuk manusia di puncak menara
Lagi,,,
Kau datang mengusik nuansa
Tiada berhenti, meski telah jeda
Adakah salahnya padaku?
Entah..
Akukah si perusak hati?
Mengapa cinta selalu datang dari hati yang berbeda
Kau mengajakku menyeberangi masa
Berpikir dewasa mendahului usia
Ah, tidakkah dia paham, Allah??
Betapa hatiku teramat belia
Bila memang aku si pemilik pesona
Terima kasih atas segalanya
Namun, Allah
Tolong jangan sematkan nama hamba di hatinya
Jika ternyata akan ada dosa yang mengiringinya
Hamba belum siap, Allah
Untuk memiliki kehidupan di sisi baru dunia...

25 November 2008
to:manusia dari utara
Mengapa datang lagi??
Malam ini tiada purnama memang
Tapi ada sabit penuh pesona
Tersenyum menatap semua
Meski aku berharap, itu untukku
Aku tau, seperti itu senyum mereka padaku
Malam ini, tiada purnama memang
Tapi cukuplah sabit itu saja menerangi hatiku
Seakan berkata
Nida, senyum ini untukmu
Aku tak dapat membaca pertanda
Entahlah...
Tapi semoga saja
Esok lebih baik, Allah...
Selamat tidur, semua hati yang galau
Mungkin tiada lama lagi aku akan pulang
Menapaki jejak di hari masa lalu
Berbagi rindu,
Semoga tidak kelabu

1 Desember 2008
begitu indah sabit malam ini
Langitku kelabu
Mendungku terbendung
Entah denganmu
Bungkam dulu semua kata
Tak ingin dulu kuungkap rasa
Tak perlu, memang..
Sampaikan salamku, Bintang
Maaf, kali ini aku tak dapat pulang
Rinduku masih kujerat dalam ruang
Mari kita tersenyum
Bukankah kita tak boleh menangis?
Terimalah hal yang mengiringi pilihanmu...
Semoga qta berjumpa dalam mimpi nanti malam..

Tuntungan, 3 Desember 200
Ketika tak jadi IB
Matahari memang satu
Aku tau itu, sejak dulu bahkan
Sejak aku mulai memiliki hari
Dan sejak kau belum hadir di suatu ruang hati
Tapi, mengaoa kau pergi??

Matahari memang satu
Aku tau itu, sejak dulu bahkan
Sejak aku mulai menjejak bumi
Dan sejak kau belum datang untuk mengajakku bernyanyi
tapi, mengapa kau pergi??

Matahari memang satu
Aku tau itu, sejak dulu bahkan
Sejak aku mulai menyicip indahnya kata
Dan sejak kau memilih pergi
Tak terbersitkah rasa untuk kembali??

Matahari memang satu
Aku tau itu, sejak dulu bahkan
Sejak aku mulai menatap langit
Dan sejak matahari satu, melahirkan dua wajah
Entah bagaimana yang engkau saksikan dari sana

Matahari masih satu
Meski kita tak dapat menatap sinarnya bersama

Matahari masih satu
Aku tau itu, sejak kau pergi
Dan sejak kau belum pernah kembali
Namun aku tau, sejauh langakahmu pergi
Hanya satu matahari yang ada, yang diwakilkan Allah
Untuk menerangi jalanku dan jalanmu

Matahari masih satu
Cepat pulang aku masih menunggu..


To My greatest Friend..
Wherever u r...
Kalau aku adalah kamu
Aku gak akan merasa senang
Karena kamu ga lebih baik dari aku
Dan aku juga ga seburuk yang kamu kira

Kalau aku adalah kamu
Aku ga akan merasa bahagia
Karena kamu bukan seseorang yang sangat
Meski kuakui kamu seseorang yang lebih

Kalau aku adalah kamu
Aku ga akan merasa sempurna
Karena dengan begitu,
aku kehilangan aeauatu yang berharga

Kalau aku adalah kamu
Aku ga akan merasa puas
Karena kamu tidaklah memiliki
segala yang aku suka

Kalau aku adalah kamu
Aku ga akan merasa tenang
Karena aku tau, kamu ga mau jadi aku
Apalagi aku?? Ya jelaslah aku ga mau

Kalau aku adalah kamu
dan kamu adalah aku
Pikir aja sendiri gimana jadinya
Karena biarpun aku udah banyak belajar conditional,
eh, soal yang keluar cuma tiga

Aku benci!
Karena aku ga bisa jawab soal lain
Kalau aku adalah kamu
Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang???
Atau kamu udah tau social function,
linguistic features and schematic structures
dari semua text??
Entahlah! Pikirin aja Ndiri...

RDI, 3 September 2007
Di sela-sela ulangan English
12:00 p.m
Dia...
Mengapa harus dia?
Dia..
Mustahil segala kata
Dia...
Membuat hari berbayang luka
Dia...
Ada apa??
Dia...
Mencipta hati yang berbeda
Dia...
Aku ingin pergi saja
Dia...
Entahlah! Kubur saja segalanya
Dia...
Lupakan! Sebelum segala menjadi prahara
Dia...
Tak pernah ada apa-apa



Ramadhan suci
26 September, 2007
11:10 p.m W.Kamarku
Rinduku di padang purnama
Aku tak punya wajah untuk menatap cinta
Aku tak punya muka untuk mengukir makna
Gerimis turun di sepinya dunia kata
Tak apa!Toh tak ada siapa-siapa
Bahkan jika hujan deras tak mereda
Hanya ada beberapa mata yang terjangkau oleh jiwa
Tertembus oleh muramnya cahaya
Kau tak perlu terpana!
Aku sudah biasa! Tak percaya?
Lihat saja ke dalam sana
Ada ratusan kata yang melata,
ada seribu kecewa yang menganga, ada luka
ada juga bahagia, canda
dan cinta tak bernama
Untuk seorang manusia, yang setia pada tintanya...

Bulan Fitri, 16 Oktober 2007
Rinduku di padang purnama
Aku tak punya wajah untuk menatap cinta
Aku tak punya muka untuk mengukir makna
Gerimis turun di sepinya dunia kata
Tak apa!Toh tak ada siapa-siapa
Bahkan jika hujan deras tak mereda
Hanya ada beberapa mata yang terjangkau oleh jiwa
Tertembus oleh muramnya cahaya
Kau tak perlu terpana!
Aku sudah biasa! Tak percaya?
Lihat saja ke dalam sana
Ada ratusan kata yang melata,
ada seribu kecewa yang menganga, ada luka
ada juga bahagia, canda
dan cinta tak bernama
Untuk seorang manusia, yang setia pada tintanya...

Bulan Fitri, 16 Oktober 2007
Apa yang kau pikirkan?
Tidakkah kau melupakannya saja?
Aku tau, dia bukanlah seseorang yang entah
Yang tidak berasal dari berantah
Dia pantas! Hanya kau yang tak layak
Maaf pada hatimu, kecewa pada jiwamu
Tidakkah ada hal lain yang lebih kerdil???
Selain berbohong dan mendustai matahari, pelangi dan hari-hari

Sudah! Buang saja, jika memang tak sanggup kau simpan
Mengapa harus gundah pada sesuatu yang menjajah?
Mengapa harus kecewa pada sesuatu yang tiada?
Mengapa harus sedih pada sesuatu yang mencipta pedih?
Mengapa harus pergi untuk sesuatu yang tak pernah peduli?

Tidur saja!
Pejamkan mata!
Simpan segala kata!

RDI, September 2007
Selamat pagi seseorang yang tiada...
Aku masih menunggu di depan jendela
Akan keajaiban, atau mungkin ketidakmungkinan
Tentang sesuatu yang tak akan menjadi nyata
Sepertinya...
Dan memang sepertinya selamanya
Hingga waktu yang berakhir bersama dia
Kau tau??
Betapa aku mengharapkannya...
Hingga suatu saat dia datang
Mungkin saja kau telah terbang
karena aku tau
tentangmu yang telah mendapatkannya
Dan aku bahagia untukmu
Sehingga hanya ada sejuta kecewa
Yang tertinggal untukku
Setelah segalanya semakin dekat
Haruskah aku tetap menghitung
dengan angka-angka??
Entahlah!
Hanya itu saja...


RDI, 7 November 2007
Setelah ujian matematika
Selamat siang seseorang yang tiada...
Aku masih menunggu di depan jendela
Tapi aku telah lebih baik,
lebih baik dari tadi pagi mungkin!
Mungkin! Tapi aku belum tau...
Bagaimana denganmu?
Seharusnya kau membentakku saja
Atau marah, bila perlu teriak saja
Padanya, pada orang-orang dan juga dunia
Agar aku tak lagi lengah
Agar aku bisa sepertimu
Agar aku terlihat, dan terbaca oleh cahaya
Duh!!! Segala yang peduli
Maafkan aku!
Karena aku belum bisa menciptakan tawa
Yang kelak kuhadiahkan
Pada kalian dan mereka.....
Setelah ulangan matematika...
RDI, 7 November 2007
Ada si Dewi, ada juga si Juju
Juga si Nida serta si Nopy
Terperangkap dalam hujan
Terkurung dalam kedinginan
terhalang mata mereka menatap pemandangan
Hujan...Hujan....Mengapa tak bilang-bilang?
Kalau kamu mau datang?
Ada si Dewi, ada juga si Juju
Juga si Nida serta si Nopy
Terperangkap dalam hujan
Hujan...Hujan....Mengapa tak bilang-bilang?
Kalau kamu mau datang?
Tapi tak apa-apa
Toh, mereka sudah kenyang
Setelah makan makanan yang panjang-panjang
Hujan...Hujan...
Dingin...Dingin...
Si Dewi, ke belakang(ngapain?)
Si Nopy menemani
Si Juju ngantuk di kursi
Si Nida menulis puisi


Kamis hujan,8 November 2007
Si Reza terpekur bersama HP
Si Defri duduk sendiri mencari inspirasi
Ayu dan Rifa sibuk bertengkar
Kharda pun diam bersama 2 HP
Dua anak manusia sibuk bermain catur
Dua lainnya tenggelam dalam lagu
Si Nida KH, sibuk!Namanya gak ditulis
Adit, cari handuk!!!
Reju, ntah apa..
Yang lain kemana ya??


RDI,8 November 2007
Akukah penipu itu?
Yang telah mewarnai hari dengan kebohongan
Lalu, mengapa kau hanya diam?
Mengapa tak lagi datang untukku?
Membenarkan letak hati dan akalku
Yang kini mulai berantakan
Berserakan tak menentu bentuknya!

Akukah pengecut itu?
Yang lantas bersembunyi di balik hati
Lalu,menggigitnya sedikit demi sedikit
Hingga tak kau dapati hati yang dulu
Yang sempat bersamamu di suatu masa yang telah jauh lalu

Aku tak ingin lagi lelah untukmu
Untukmu yang memang aku tak pernah tau
Jika engkau kembali seperti semula,akulah orang paling bahagia hai ini...


RDI, 29 November 2007
Tak pernah ada yang dapat kau ingat
Dari musim yang berlalu di belakangmu
Lalu kau terdiam
mungkin pula bertanya
kemana dia?
Sepenggal jawaban tak bisa menyempurnakannya
Bahkan sekedar menutup matamu yang terlanjur terbuka
Pedih!! Mengapa pula?
Sekalipun menangis
Dan tak ada yang datang
Simpanlah saja untukmu sendiri
Pendamkan di dasar terdalam
Segalanya memang tak pernah berjejak
Berbekas sedikit sajapun tak dapat kau temui
Mungkin, tidak dengan hatimu
Yang terkontaminasi dengan sesuatu yang entah apa
Dengar saja!
Tak ada yang merasa
Ketika kau bercerita dalam gelap melalui pena
Biarpun hitungan terus berganti
Dia tak pernah merasa ingin kembali untukmu


28 November 2007
Nida, apa kabar?
Adakah kau lihat sabit malam ini?
Lalu, apa yang kau rasakan?
Ayolah, Nida!
Jangan menyerah pada hati!
Jika di dalamnya hanya ada setan dan segenap kebohongan
Nida, lupakan segala hal
Segala hal yang tak patut kau ingat!
Nida, jika purnama saja dapat berganti sabit di awal bulan,
mengapa kau merasa tak mampu melupakan sesuatu yang kecil?
Oh...Nida!
Bersihkan nuranimu,sucikan sanubarimu
Nida, Purnama memang akan selalu datang
Tapi aku harap, kau tak pernah menyerah padanya...


9 Februari 2007

My Brigh star..

Apa kabar hari ini??
Mengapa kau datang semalam?
Disaat aku hanya ingin sendiri
Menepi dalam sudut-sudut mimpi yang semakin sepi
Menagapa datang?
Jika hanya ingin mengotori hatiku
Lalu pergi!
Pergi tanpa ingat pernah berbagi

Apa kabar hari ini?
Adakah mendung di langitmu?
Seperti yang terjadi di atapku
Atau memang kau tak pernah mengerti juga memiliki
Sesuatu yang telah kau sisakan di setapak jalanku
Aku lelah
Aku ingin menyerah
Namun, maafkan aku lembar merah
Karena terus saja menjajahmu
dengan sesuatu untuknya...


20 Novenber 2007
Aku masih mencoba mengejar pelangi
Dan aku tau, kau telah mendapat matahari
Aku belum hendak berpikir tentang hati
Namun kau mengiringku untuk memahami sanubari
Terlalu dini
Aku tak mengerti
Aku masih bak kurcaci
Masih ingin aku menelusuri bumi
Namun sekali lagi,
Aku terjebak dalam labirin hati
Hari ini, dan entah sampai kapan lagi
Hanya aku yang tersisa di sini
Dan memang aku masih ingin sendiri
Aku masih ingin menjejak bumi
Mencari hati yang benar-benar kucintai


6 Juli 2008
untuk manusia dr Utara yg mengajakku memahaminya

Jalan lain untukku

Aku tergiring dalam dunia baru
Menelusuri setapak jalan baru dalam episode waktu
Ah, aku tak pernah merasa tersesat di sini
Tidak!!
Hanya saja aku membutuhkan sedikit kecewa
Yang mungkin akan tertutup dengan buncahan bahagia

Ohh...
Tidak Nida!!
Tak perlu kau sesali keberuntungan
Jika ternyata, Tuhan selalu sangat baik
Dan apabila salah satu keberuntungan itu harus kau lepas
Percayalah..
Ada banyak hati yang akan kau bahagiakan
Bukankah begitu, Nida?
Tak perlu merasa bersalah
Apabila engkau memang harus mengakhiri episode ini sebelum dia dimulai


Unsyiah, 14 Juli 2008
Dalam kepenatan matrikulasi

Tentang Ijoek...


Tentang Ijoek..
Tentang bagian puzzle yang melengkapi perjalanan waktu
Tentang perbedaan yang luluh dalam kebersamaan
Tentang kebekuan yang mencair dalam perjuangan
Tentang pagi, siang dan indahnya hubungan

Terkadang, kita tertawa, meski tangis tak terelakkan
Terkadang kita bercanda, meski selisih tak terhilangkan

Ah, begitu indah..
Seakan baru kemarin kita berkenalan
Memahami hati dan pikiran
Berbagi udara, bertukar kata dan mengurai air mata
Tapi, Hei...Lihatlah!!
Kita telah dewasa..
Tak selamanya kita harus bersama
Karena dunia masih terlalu luas untuk kita jelajahi

Dan hari ini, sebelum cerita baru dimulai
Izinkan aku menulis nama kita di sini
Biarkan aku menulisnya seindah yang aku bisa
Agar selalu kuterkenang pada segalanya


1. Adila maulidya
2.Aditya Dharma Putra
3.Amelia Cassandra
4.Ayu Sartika
5. Cut Aulia Sari
6. Defri Mulyadi Putra7. Dewi Sartika
8. Fithria Irnanda
9. Haris Minanda
10. Humaira
11. Ilham Zahri
12. Izzan Nur Aslam
13. Juliana Fisaini
14. Kharda Ahfa
15. Maisarah Jumaidi
16. Miftahul Jannah
17. Muhammad Reza
18. Murni Safitri
19. Nasrizarni
20.Nida Khairani
21. Nidatul jamiati
22. Nopryati
23.Putri hartati
24. Putri Rizkya Ulfa
25. Reza Jumianda
26. Said Mayzar Mulya
27. Septiyeni
28. Soraya
29. Syarifah Marhamah
30. T. Hafidz Mushawwir
31. Veliqa Nadhila


3 Agustus 2008
Apa kabar adikku Nida?
Apakah pelangi dan bintang-bintang masih menemani?
Bagaimana pula dengan purnama, Adikku?
Adikku Nida..
Berhantilah menangis
Berhentilah mengeluh
Sungguh, begitu banyak hal yang telah kau pertaruhkan
Adikku Nida..
Tapi kau boleh menangisi suatu hal
Dosamu, Dik...
Bukankah kau telah tau, Dik?
Hanya ada dua mata yang tak akan disiksa pada hari hisab
Mata yang berjaga di waktu perang dan mata yang menangis karena dosa
Ah..Adikku
Bertahanlah...
Terkadang dunia memang begitu kejam dengan arusnya yang begitu deras
Adikku..
Jagalah hati dan dirimu
Agar suatu saat dapat kau persembahkan...


Dalam pendidikan Samapta
Udiklat Tuntungan
19 Agustus 2008

Untuk yang pergi

Selamat pagi, dunia
Hari ini kau buktikan bahwa dirimu begitu luas
Tapi sungguh, aku tak akan menyalahkanmu
Bila hari ini, kau akan membuatku menjadi jauh dari seseorang
Seseorang yang telah kukenal jauh sebelum hari ini

Selamat pagi, Dunia..
Hari ini kau akan membagi jalanmu, untukku dan untuknya
Juga untuk mereka
Aku telah belajar untuk tidak lagi menangis
Karena aku yakin, ada banyak hal indah yang akan aku, dia, dan mereka bawa pulang..
Untukku, dia dan mereka
Sebagai suatu tanda bahwa kami adalah saling memiliki

Selamat pagi, Dunia..
Jagalah semua jiwa yang akan dan telah berpencar
Sejak hari ini, kemarin atau mungkin besok
Kirimi aku kabar melalui matahari
Dan sampaikan sejuta cintaku
Bersama derai angin yang menggugurkan dedaunan


Tuntungan, 4 September 2008
Untuk semua yang jauh...

Nida...

Nida bertanya tentang pelangi
Namun bintang-bintang kini tak lagi menemani
Kemana purnama?
Bahkan sabit lengkung hanya hadir di akhir malam

Nida tersenyum, menangis dan tergelak
Dunia menghempas sejuta tanggung jawab ke punggungnya
Kemana hati, kemana cinta?
Ah, Nida tak mau lagi peduli
Belantaranya terlalu gelap untuk dikuak

Nida tersenyum
Di gerbang perbedaan
Kuatkan imannya,Allah

27 Agustus 2008

Pagi SUram di Ijoek...

Kalau matahari milik kita,
Mengapa kau berada dalam gelap
Jika bulan punya kita,
mengapa kau pergi saat terang???

Pantaskah aku kecewa?
Sedang hari baru menyapa
Kau berada dalam badai
Lalu, apa kuasaku pada semua?
Ketika aku hanya bisa menatap
Dan semua hati, hanya bisa kecewa
entah pada siapa...

RDI, 24 Agustus 2007
Untuk smw sahabat yg dimarahi guru biologi
Ibu Nursulastri

Nida

Ingin kubernyanyi ketika bulan mengurung diri
Namun tak kutemukan sepenggal baitpun di kaki langit
Akhirnya, kututup saja hari tanpa jeda
Tak adakah celah tempatku mengintip hari??

Kusapa malam saat lelah membelenggu jiwa
Ah, seandainya saja ada waktu untuk berbagi cerita bersama dunia
Tapi aku terlalu lelah untuk melakukannya..
Dan lelahku, terus menggiring ke ujung malam
Akupun tertidur dan tak akan ada mimpi yang menemani...

RDI, 16 Agustus 2007

entahlah...

Dan aku ingin pergi bersamanya
Meraih langit, menyentuh awan
tapi aku hanya bisa berandai
karena dia telah pergi bersama angin
ketika aku hanya bisa berandai
karena dia telah pergi bersama angin
ketika aku hanya bisa belajar memakai sayap

Lalu pelangi memanggil
sayup, kudengar desahan bintang
Nida, cepat kenakan sayapmu
Dia belum terbang terlalu tinggi
Dan yakinlah, dia akan menunggumu di pintu langit


RDI, 19 Agustus 2007
To semua yg telah mendahuluiku dalam segala hal...

Lalu Ada Bintang....

Lalu ada bintang...
Tersenyum..
Tak bergeming dari tempatnya
Lalu menyapaku...
Apa yang telah terjadi padamu, Nida???

Lalu ada bintang...
Tersenyum..
Tak berpaling dari wajahku
Lalu berkata...
Jangan sedih, Nida! Aku akan selalu menemanimu

Lalu ada bintang..
Tersenyum..
Tak lekas hilang dari tatapanku
Lalu berteriak...
Nida! Berusahalah! Kau pasti bisa mengalahkan dirimu!

Lalu ada bintang..
Tersenyum..
Tetap tersenyum
Sampai nanti, tetap bersamaku
Berbagi dan terus tersenyum...

RDI,24 Maret 2007

Tentang Nida


Tentang Nida...
Tentang sebuah jiwa di Negeri Pelangi
Tentang sebuah mimpi di atas awan
Tentang sebuah bintang yang disebut Bright Star

Tentang Nida...
Tentang gemuruh hati yang tak akan reda
Tentang sebuah perjuangan yang tak pernah ada
Tentang sebatang kata yang terhenti di pintu itu

Tentang Nida...
Tentang seorang manusia di punggung dunia
Tentang sebutir cinta di ujung pena
Tentang air mata beku di dasar kalbu

Tentang Nida..
Begitulah! Tak ada yang istimewa
Hanya cerita panjang yang tak berujung
Hanya sebuah harapan yang entah akan terwujud
Biarkan ia melukis jejak-jejak kecil
Di halaman yang tak terbaca cahaya...

RDI,3 Maret 2007