Sudah dua purnama kita terberai
Langit kita tetap saja sama
Hanya saja, kita menyaksikan dari sudut yang berbeda
Entah mengapa, menjauh segala
Menyisakan sedikit saja
Cinta yang tak bisa tercerna
Mungkinkah bernama Nida?
Tidak!Tak ada makna
Mengapa terluka?
Tak mengapa, Nida
Purnama kedua
Semakin terang segala cahaya
Semakin jauh aku dan jiwaku
Tak perlu tumpahkan air mata
Karena memang tak perlu ada luka
Purnama kedua
Entah tinggal berapa
Medan, 15 Oktober 2008
Minggu, 29 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar