Dan hanya berikan aku sekepak sayap
Agar selalu aku dapat terbang menujumu
Jika suatu hari aku harus jauh
Maka aku dapat pulang membunuh rindu
Dan hanya berikan aku sekepak sayap
Hingga aku datang menyapamu
Mengumpulkan segala senyum yang terserak
Membinasakan segala tangis yang terberai
Dan meskipun aku memakai kata hanya
Tak ada yang akan menjelma nyata
Karena aku hanya punya kata untuk menyapa
Suara di udara
Dan dua tangan untuk menghapus air mata
Dan jika suatu hari aku tetap harus jauh
Maka percayalah
Tak pernah ada rindu yang membeku
Dan meski hatiku telah dewasa
Aku hanya Nida
Yang tak bisa melarang air mata....
11 November 09
Selasa, 09 Februari 2010
Hamba hanya minta sejengkal sudut untuk menyemai harapan
Tempat dimana menghidupkan kehidupan dan mematikan kematian
Mewarnai hari, menatap rembulan dan menghitung gemintang
Hamba hanya minta secuil negeri tempat bertemu
Seperti Padang Arafah dimana tempat Engkau mempersatukan Adam dan Hawa
Lalu tak terpisahkan lagi hingga ajal menjemput
Hamba hanya minta sedikit hamparan kecil
Tempat berbagi bahagia dan menghapus air mata
Tempat berbicara dan saling mendengarkan
Di luas bumi Mu
Biarkan kami bersatu dalam ridha Mu...
Hamba mohon, Allah...
Hamba mohon....
Jangan biarkan cinta terberai terlalu jauh
Biarlah bersatu di sedikit luas bumi Mu....
15 November 09
Tempat dimana menghidupkan kehidupan dan mematikan kematian
Mewarnai hari, menatap rembulan dan menghitung gemintang
Hamba hanya minta secuil negeri tempat bertemu
Seperti Padang Arafah dimana tempat Engkau mempersatukan Adam dan Hawa
Lalu tak terpisahkan lagi hingga ajal menjemput
Hamba hanya minta sedikit hamparan kecil
Tempat berbagi bahagia dan menghapus air mata
Tempat berbicara dan saling mendengarkan
Di luas bumi Mu
Biarkan kami bersatu dalam ridha Mu...
Hamba mohon, Allah...
Hamba mohon....
Jangan biarkan cinta terberai terlalu jauh
Biarlah bersatu di sedikit luas bumi Mu....
15 November 09
Benar-benar seperti cuaca.
Bagaimana bisa menjadi sandaran.
Tiada tetap, tiada.
Berubah terus dan terus.
Dan batas-batasku mungkin samar yang terlihat.
Memang tak tau adanya.
Bagaimana bisa.
Bahkan cahaya saja tak dapat membaca.
Apa lagi seorang hawa yang tak dapat sekedar mengetuk jiwa.
Mungkin pula jam pasir yang terus dibalikkan.
Namun masih bisa kau terka di mana bermuara.
Terlalu kejamkah jika aku mengatakan bahwa kau tak bisa mengelola?
Ah, siapa aku?
Terlalu angkuh kureka pribadi.
Sejak kapan pula aku lebih baik darinya.
Haha.
Seharusnya aku tertawa.
Menyadari gandanya wajah dunia.
Balikkan saja sesuka hatimu.
Toh aku bukan siapa-siapa.
Aku sudah biasa.
Jatuh terjengkang dan bangun sendiri.
Putar-putarkan saja.
Aku masih kuat.
Aku tak menangis di depan mata bukan?
Jadi tak usahlah segan.
Selama masih bisa.
Lakukan saja.
Aku memang tak pernah terbaca oleh cahaya.
Tapi aku punya cinta.
Dan bibirku masih selalu bisa kutarik menyungging senyum tanpa sepotong paksa.
Aku punya ALLAH.
Aku punya segalanya.
Karena ALLAH selalu memberinya.
9 des 09
Bagaimana bisa menjadi sandaran.
Tiada tetap, tiada.
Berubah terus dan terus.
Dan batas-batasku mungkin samar yang terlihat.
Memang tak tau adanya.
Bagaimana bisa.
Bahkan cahaya saja tak dapat membaca.
Apa lagi seorang hawa yang tak dapat sekedar mengetuk jiwa.
Mungkin pula jam pasir yang terus dibalikkan.
Namun masih bisa kau terka di mana bermuara.
Terlalu kejamkah jika aku mengatakan bahwa kau tak bisa mengelola?
Ah, siapa aku?
Terlalu angkuh kureka pribadi.
Sejak kapan pula aku lebih baik darinya.
Haha.
Seharusnya aku tertawa.
Menyadari gandanya wajah dunia.
Balikkan saja sesuka hatimu.
Toh aku bukan siapa-siapa.
Aku sudah biasa.
Jatuh terjengkang dan bangun sendiri.
Putar-putarkan saja.
Aku masih kuat.
Aku tak menangis di depan mata bukan?
Jadi tak usahlah segan.
Selama masih bisa.
Lakukan saja.
Aku memang tak pernah terbaca oleh cahaya.
Tapi aku punya cinta.
Dan bibirku masih selalu bisa kutarik menyungging senyum tanpa sepotong paksa.
Aku punya ALLAH.
Aku punya segalanya.
Karena ALLAH selalu memberinya.
9 des 09
Allah....
Terima kasih untuk segalanya
Terima kasih untuk nafas dan kehidupan
Terima kasih untuk ayah bunda dan keluarga
Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang...
Allah...
Terima kasih untuk detik dan hitungan tahun
Terima kasih untuk rupa dan kata-kata
Terima kasih untuk hati dan jiwa
Terima kasih untuk harta dan masa depan...
Allah...
Terima kasih untuk tawa dan air mata
Terima kasih untuk sahabat dan saudara-saudara
Terima kasih untuk tangis dan bahagia
Terima kasih untuk segalanya..
Allah...
Tuntun hamba di jalan Mu
Kuatkan hamba disaat lemah
Dekap hamba disaat sedih
Temani hamba dalam kesendirian
Allah...
Hamba yakin selamanya
Tentang janji-janji dalam kitab Mu
Allah...
Kuatkan hamba
Saat hamba tak lagi sanggup
Tapi hamba yakin, hamba pasti sanggup
Karena Engkau menjanjikan batas cobaan
Hamba pasti akan selalu sanggup
Allah...
Hamba yakin
Engkau terlalu mencintai hamba
Engkau akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba
Engkau selalu memberikan segalanya untuk nida......
23 Des 09
Terima kasih untuk segalanya
Terima kasih untuk nafas dan kehidupan
Terima kasih untuk ayah bunda dan keluarga
Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang...
Allah...
Terima kasih untuk detik dan hitungan tahun
Terima kasih untuk rupa dan kata-kata
Terima kasih untuk hati dan jiwa
Terima kasih untuk harta dan masa depan...
Allah...
Terima kasih untuk tawa dan air mata
Terima kasih untuk sahabat dan saudara-saudara
Terima kasih untuk tangis dan bahagia
Terima kasih untuk segalanya..
Allah...
Tuntun hamba di jalan Mu
Kuatkan hamba disaat lemah
Dekap hamba disaat sedih
Temani hamba dalam kesendirian
Allah...
Hamba yakin selamanya
Tentang janji-janji dalam kitab Mu
Allah...
Kuatkan hamba
Saat hamba tak lagi sanggup
Tapi hamba yakin, hamba pasti sanggup
Karena Engkau menjanjikan batas cobaan
Hamba pasti akan selalu sanggup
Allah...
Hamba yakin
Engkau terlalu mencintai hamba
Engkau akan selalu memberikan yang terbaik bagi hamba
Engkau selalu memberikan segalanya untuk nida......
23 Des 09
Maafkan jika ada yang tak berkenan di hati...
Sungguh hatiku semakin lelah...
Apa yang berubah pada seorang Nida?
Katakanlah..
Agar Nida berubah menjadi lebih baik..
Nida akan selalu berusaha...
Tolong katakan, jangan diam saja
Apa yang harus Nida lakukan?
Nida tak ingin menyakiti siapapun...
Tidak....
Maafkan Nida...
Maafkan Nida...
Teman kalian yang begitu jahat ini.......
31 Desember 09
Ada lautan luas tempat nelayan mencari ikan
Ada hamparan sawah tempat bersemi padi pak tani
Ada gunung tinggi menjulang perkasa
Ada ngarai indah melingkar mempesona
Ada sungai berlekuk-meliuk sepanjang kampung dan kota
Ada danau-danau indah tiada tara
Ada pantai yang landai dan permai
Ada laguna megah menghiasi setiap pulau-pulaunya
Ada bahagia karena cinta di sudut-sudutnya
Ada air mata karena musibah menimpa di setiap penjurunya
Ada keikhlasan menghiasi hati segelintir penghuninya
Ada kedengkian mendiami hampir seluruh nurani penduduknya
Walau menangi walau tertawa
Tanah ini adalah harta pusakaku satu-satunya
Yang diberi nama INDONESIA
Suatu hari di tahun 2005
Beberapa bulan pasca tsunami
Dibuat bersama Tanteku tercinta
Almh. Hasniwati
Miss her so much now......
Ada hamparan sawah tempat bersemi padi pak tani
Ada gunung tinggi menjulang perkasa
Ada ngarai indah melingkar mempesona
Ada sungai berlekuk-meliuk sepanjang kampung dan kota
Ada danau-danau indah tiada tara
Ada pantai yang landai dan permai
Ada laguna megah menghiasi setiap pulau-pulaunya
Ada bahagia karena cinta di sudut-sudutnya
Ada air mata karena musibah menimpa di setiap penjurunya
Ada keikhlasan menghiasi hati segelintir penghuninya
Ada kedengkian mendiami hampir seluruh nurani penduduknya
Walau menangi walau tertawa
Tanah ini adalah harta pusakaku satu-satunya
Yang diberi nama INDONESIA
Suatu hari di tahun 2005
Beberapa bulan pasca tsunami
Dibuat bersama Tanteku tercinta
Almh. Hasniwati
Miss her so much now......
Dan saat aku menjejak
Aku yakin kakiku telah tau tanah mana yang terpijak
Karena bumi telah mengajariku bersama nafas-nafas berbaris sajak
Dan apa aku telah tau?
Jika hati ternyata telah dewasa seiring usia
Bukan hanya mata saja yang bernilai
Karena masih ada puluhan pertanyaan yang harus kujawab
Dan tak singkat waktuku menjawabnya
Jika hari ini aku berlari dengan dua kakiku
Itu karena dulu Bunda yang mengajariku cara berdiri
Dan Bunda tak membatas jiwaku merasa
Karena anak Bunda telah dewasa
Bukan begitu?
Bukan aku yang menghukum
Tak pula aku ingin dihukum
Dan aku berbeda denganmu
Cobalah lihat..
Akukah yang membatas di dindingmu?
Tidak kan?
Karena aku tak hendak..
Bukan pentingku
Jika suatu hari membaca samudera
Maka belajarlah menyelam terlebih dahulu
Karena keindahannya tak sempurna di permukaan
Dan terima kasih Bunda, Ayah
Telah percayakan Ananda mendayakan jiwa...
Dan bukankah samudera itu terlihat anggun di matamu juga,
wahai Ayah dan Bunda???
13 Januari 09
Aku yakin kakiku telah tau tanah mana yang terpijak
Karena bumi telah mengajariku bersama nafas-nafas berbaris sajak
Dan apa aku telah tau?
Jika hati ternyata telah dewasa seiring usia
Bukan hanya mata saja yang bernilai
Karena masih ada puluhan pertanyaan yang harus kujawab
Dan tak singkat waktuku menjawabnya
Jika hari ini aku berlari dengan dua kakiku
Itu karena dulu Bunda yang mengajariku cara berdiri
Dan Bunda tak membatas jiwaku merasa
Karena anak Bunda telah dewasa
Bukan begitu?
Bukan aku yang menghukum
Tak pula aku ingin dihukum
Dan aku berbeda denganmu
Cobalah lihat..
Akukah yang membatas di dindingmu?
Tidak kan?
Karena aku tak hendak..
Bukan pentingku
Jika suatu hari membaca samudera
Maka belajarlah menyelam terlebih dahulu
Karena keindahannya tak sempurna di permukaan
Dan terima kasih Bunda, Ayah
Telah percayakan Ananda mendayakan jiwa...
Dan bukankah samudera itu terlihat anggun di matamu juga,
wahai Ayah dan Bunda???
13 Januari 09
Mengapa harus ada kata bernama selisih?
Mengapa harus aku dan engkau berada di antaranya?
Bolehkah aku menangis saja?
Sudah tak mungkin rasanya aku tersenyum
Cukup,aku tak sekuat kau kira
Dua hati sudah kau wakilkan padaku
Betapa hanya aku dan engkau saja yang tersiksa
Biarkan kubunuh dengan air mata
Izinkan aku menumpahkan beberapa tetes saja
Karena aku memang lemah
Tak sekuat kau sangka
Tolong santuni rindu yang kutitip di langit Banda
Bawa pulang saja,pelihara dengan baik
Biar aku pergi,dan entah kapan kembali
Dan luka tak terperi ini kubasuh sendiri
Kapan kau dapat datang membawa penawar?
Aku takut tak sanggup mengelola
Aku Nida mu
An Khafiyya mu
Berapa lama lagi harus menunggu?
Kapan selisih itu tak ada lagi?
Aku benar-benar sakit dan tersiksa..
Kepadamu tentang selisih itu
Lamnga,220909
Mengapa harus aku dan engkau berada di antaranya?
Bolehkah aku menangis saja?
Sudah tak mungkin rasanya aku tersenyum
Cukup,aku tak sekuat kau kira
Dua hati sudah kau wakilkan padaku
Betapa hanya aku dan engkau saja yang tersiksa
Biarkan kubunuh dengan air mata
Izinkan aku menumpahkan beberapa tetes saja
Karena aku memang lemah
Tak sekuat kau sangka
Tolong santuni rindu yang kutitip di langit Banda
Bawa pulang saja,pelihara dengan baik
Biar aku pergi,dan entah kapan kembali
Dan luka tak terperi ini kubasuh sendiri
Kapan kau dapat datang membawa penawar?
Aku takut tak sanggup mengelola
Aku Nida mu
An Khafiyya mu
Berapa lama lagi harus menunggu?
Kapan selisih itu tak ada lagi?
Aku benar-benar sakit dan tersiksa..
Kepadamu tentang selisih itu
Lamnga,220909
Kami,malam ini
Satu mengelola dua hati
Satu tak lagi mempunyai
Katanya biar padamu saja
Nanti kujemput seluruhnya
Kami,malam ini
Satu menjauh
Satu mendekat
Keduanya merambat tak satu tujuan
Ragaku kelana
Raganya tiba
Kami,malam ini
Bukan ke satu titik
Bukan ke satu tunjukan
Karena selalu harus ada sana dan sini
Kami,malam ini
Hanya ada hampa
Tak hak kupinta jumpa
Belum mungkin
Entah kapan
aku pergi
dia kembali
Banda Aceh says:
"selamat jalan bidadari,selamat datang pemilik hati"
Jl Bna-Medan
230909
untuk kami yang berselisih waktu
Satu mengelola dua hati
Satu tak lagi mempunyai
Katanya biar padamu saja
Nanti kujemput seluruhnya
Kami,malam ini
Satu menjauh
Satu mendekat
Keduanya merambat tak satu tujuan
Ragaku kelana
Raganya tiba
Kami,malam ini
Bukan ke satu titik
Bukan ke satu tunjukan
Karena selalu harus ada sana dan sini
Kami,malam ini
Hanya ada hampa
Tak hak kupinta jumpa
Belum mungkin
Entah kapan
aku pergi
dia kembali
Banda Aceh says:
"selamat jalan bidadari,selamat datang pemilik hati"
Jl Bna-Medan
230909
untuk kami yang berselisih waktu
Aku ingin menyentuh hatinya
Sedikit saja
Meruntuhkan segala angkuh yang mengeruh
Tapi aku hanya air
Bolehkah berharap memecah sebongkah batu??
Cintaku terlalu besar
Bagaimana bisa kusulut amarah
Aku tak mau..
Tidak...
Harapku berlapis pinta
Aku tak ingin ada selisih
Duh...
Aku memohon..
Sekali saja......
Atau mungkin aku gagal mendidik hati yang dia titipkan padaku??
Aku hanya selalu teringat nasihat Ayah Luqman pada anaknya...
24 November 09
Sedikit saja
Meruntuhkan segala angkuh yang mengeruh
Tapi aku hanya air
Bolehkah berharap memecah sebongkah batu??
Cintaku terlalu besar
Bagaimana bisa kusulut amarah
Aku tak mau..
Tidak...
Harapku berlapis pinta
Aku tak ingin ada selisih
Duh...
Aku memohon..
Sekali saja......
Atau mungkin aku gagal mendidik hati yang dia titipkan padaku??
Aku hanya selalu teringat nasihat Ayah Luqman pada anaknya...
24 November 09
Tentang kerinduan yang tak tersentuh
Dan jarak yang tak akan pernah tertempuh
Satu hal, aku ada untuk kau rengkuh
Atau sekedar tempat membagi keluh
Meski aku memang tak dapat berkata banyak tentang kerinduanmu
Hanya sebingkis doa untuk yang telah mendahului
Serta lantunan ayat yang terjama' dalam himpunan doa
Lakukanlah itu,
karena di sana, beliau meng-aamiiin-kannya
Dan semoga segala amal menemani tidur panjangnya
Yakinlah Allah selalu menjaganya di sisiNya....
Hingga suatu saat
Juga akan tiba waktu
Bagiku, bagimu, bagi semua
Untuk pergi menyusul ke alam itu....
Ditulis setelah menerima rangkaian sms dari seorang sahabat
Yang sedang merindukan Alm. orang tuanya..
Sabar ya, teman...
Medan, 27 oktober 2009
Dan jarak yang tak akan pernah tertempuh
Satu hal, aku ada untuk kau rengkuh
Atau sekedar tempat membagi keluh
Meski aku memang tak dapat berkata banyak tentang kerinduanmu
Hanya sebingkis doa untuk yang telah mendahului
Serta lantunan ayat yang terjama' dalam himpunan doa
Lakukanlah itu,
karena di sana, beliau meng-aamiiin-kannya
Dan semoga segala amal menemani tidur panjangnya
Yakinlah Allah selalu menjaganya di sisiNya....
Hingga suatu saat
Juga akan tiba waktu
Bagiku, bagimu, bagi semua
Untuk pergi menyusul ke alam itu....
Ditulis setelah menerima rangkaian sms dari seorang sahabat
Yang sedang merindukan Alm. orang tuanya..
Sabar ya, teman...
Medan, 27 oktober 2009
Lihat: Lengkap | Ringkas
Dan engkau telah berjanji memetiknya untukku..
Di masa yang belum jauh lalu..
Saat aku tak bisa menerjemahkan cahaya..
Saat aku tenggelam bersama gerhana..
Dan saat semuanya telah terang sebagai pelita..
Terima kasih telah menjanjikan sinarnya..
Namun tetap saja tak sempurna..
Berharap di keping-keping yang sama..
Tak terangkai seutuhnya atau mungkin belum?
Katamu jangan berhenti berharap..
Dan Najmu Tsaqib itu
Tetap ada di langit kita
Biarkan aku berhitung dalam diam
Biarkan aku menikmati indahnya..
Dari celah langitku di sini..
Berharap rinduku terwakilkan olehnya.....
Di masa yang belum jauh lalu..
Saat aku tak bisa menerjemahkan cahaya..
Saat aku tenggelam bersama gerhana..
Dan saat semuanya telah terang sebagai pelita..
Terima kasih telah menjanjikan sinarnya..
Namun tetap saja tak sempurna..
Berharap di keping-keping yang sama..
Tak terangkai seutuhnya atau mungkin belum?
Katamu jangan berhenti berharap..
Dan Najmu Tsaqib itu
Tetap ada di langit kita
Biarkan aku berhitung dalam diam
Biarkan aku menikmati indahnya..
Dari celah langitku di sini..
Berharap rinduku terwakilkan olehnya.....
Ah...
Lama rasanya aku tak menyapa kalian melalui puisi. Apalagi menatap wajah-wajah kalian. Ingin kudeskripsikan satu persatu senyum kalian. Tiba-tiba aku teringat kita. Rindu. Ingin kembali ke masa itu. Tapi mana mungkin...
Hmm....
Aku rindu mendengar suara kompak mengaji kita. Ah.. Kapan lagi bisa melerai waktu bersama?? Setelah terlerai dan terberai entah kemana..
Tergelitik membayangkan jadi apa kita lima tahun lagi? Masihkah dapat sesekali mengungkit kenangan?
Berbagi cerita tentang hidup dan segala peristiwa.
Miss u all...
Miss u so much....
Lama rasanya aku tak menyapa kalian melalui puisi. Apalagi menatap wajah-wajah kalian. Ingin kudeskripsikan satu persatu senyum kalian. Tiba-tiba aku teringat kita. Rindu. Ingin kembali ke masa itu. Tapi mana mungkin...
Hmm....
Aku rindu mendengar suara kompak mengaji kita. Ah.. Kapan lagi bisa melerai waktu bersama?? Setelah terlerai dan terberai entah kemana..
Tergelitik membayangkan jadi apa kita lima tahun lagi? Masihkah dapat sesekali mengungkit kenangan?
Berbagi cerita tentang hidup dan segala peristiwa.
Miss u all...
Miss u so much....
Dan tertakdirkan berada di sini
Terbingkai dalam pigura yang tak terbaca
Dan tak ada yang menyadari
Jikapun ada hanya tatapan
entah cela, entah iba, yang jelas tiada puji
Kurasa, begitu
Entah benar pula hatiku
Dan hanya aku, nyawaku
Tak ada yang berkunjung ke hatiku
Bertanya kabar
Usah kuharap..
Salahkah memimpikan kembali?
Merajut kisah di sana
Ah, tapi lagi-lagi tak berani
Dan aku hanya aku
Dan hanya aku
Entah sebagai apa, tak tau aku
Dan empat aksara pun sepertinya terlalu berbelit
Atau memang tak penting sama sekali?
Ya....
Dan pigura ini terus saja membingkai
Tak peduli aku punya jiwa
Terbingkai....
Dan aku benci senyum itu
Dan semakin tak kuasa menyimak segala tawa
Dan aku semakin jatuh
Jauh....
Jauh....
Dimana bau tanahku?
Dan aku rindu...
Rindu berada di sisi yang tercinta....
Dan piguraku usang
Ada ratusan lain yang patut terlirik
Liriklah....
Tapi jangan pasung aku di sini....
Terbingkai dalam pigura yang tak terbaca
Dan tak ada yang menyadari
Jikapun ada hanya tatapan
entah cela, entah iba, yang jelas tiada puji
Kurasa, begitu
Entah benar pula hatiku
Dan hanya aku, nyawaku
Tak ada yang berkunjung ke hatiku
Bertanya kabar
Usah kuharap..
Salahkah memimpikan kembali?
Merajut kisah di sana
Ah, tapi lagi-lagi tak berani
Dan aku hanya aku
Dan hanya aku
Entah sebagai apa, tak tau aku
Dan empat aksara pun sepertinya terlalu berbelit
Atau memang tak penting sama sekali?
Ya....
Dan pigura ini terus saja membingkai
Tak peduli aku punya jiwa
Terbingkai....
Dan aku benci senyum itu
Dan semakin tak kuasa menyimak segala tawa
Dan aku semakin jatuh
Jauh....
Jauh....
Dimana bau tanahku?
Dan aku rindu...
Rindu berada di sisi yang tercinta....
Dan piguraku usang
Ada ratusan lain yang patut terlirik
Liriklah....
Tapi jangan pasung aku di sini....
Ketika kau hanya bisa menghitung ketidakpastian
Kapan berakhir keterbatasan?
Kapan berujung ketiadaan?
Hidup di bawah langit mereka
Tak pernah berani berharap kembali ke tanah sendiri
Terlalu berlebihan?
Tidak !!
Segala untuk yang tercinta
Bukan begitu?
Syukurlah...
Allah mewakilkan saudara seperti kita
Menciptakan kehidupan keluarga yang terkadang terkesan terlalu dipaksakan
Bertahan di antara lima puluh ribu
Begitu kata salah seorang di antara kita
Tapi minggu memang semakin menua
Ketika lembaran terakhir terpecah belah
Berkeping terbagi menjadi rezeki-rezeki mereka
Ah...
Cukup hanya kita yang tau
Tak perlu perbincangkan pada bumi
Karena yang ada hanya sambutan penuh tertawaan mungkin...
Dan ketika dia terus menjalar
Menggerogoti semua kita
Dan ketika lembaran terakhir terbang ke tangan orang lain
Ada Allah yang akan menjaga kita...
Duhai Yang Maha Kaya...
Berikan kepada kami rezeki Mu
Dan berkahilah rezeki kami...
Aamiiin......
Detik-detik menunggu uang saku.........
Dan SK pun tak pernah datang......
Rumah Gang Suka-Suka
1 November 2009
Dan tertakdirkan berada di sini
Terbingkai dalam pigura yang tak terbaca
Dan tak ada yang menyadari
Jikapun ada hanya tatapan
entah cela, entah iba, yang jelas tiada puji
Kurasa, begitu
Entah benar pula hatiku
Dan hanya aku, nyawaku
Tak ada yang berkunjung ke hatiku
Bertanya kabar
Usah kuharap..
Salahkah memimpikan kembali?
Merajut kisah di sana
Ah, tapi lagi-lagi tak berani
Dan aku hanya aku
Dan hanya aku
Entah sebagai apa, tak tau aku
Dan empat aksara pun sepertinya terlalu berbelit
Atau memang tak penting sama sekali?
Ya....
Dan pigura ini terus saja membingkai
Tak peduli aku punya jiwa
Terbingkai....
Dan aku benci senyum itu
Dan semakin tak kuasa menyimak segala tawa
Dan aku semakin jatuh
Jauh....
Jauh....
Dimana bau tanahku?
Dan aku rindu...
Rindu berada di sisi yang tercinta....
Dan piguraku usang
Ada ratusan lain yang patut terlirik
Liriklah....
Tapi jangan pasung aku di sini....
2 November 09
Terbingkai dalam pigura yang tak terbaca
Dan tak ada yang menyadari
Jikapun ada hanya tatapan
entah cela, entah iba, yang jelas tiada puji
Kurasa, begitu
Entah benar pula hatiku
Dan hanya aku, nyawaku
Tak ada yang berkunjung ke hatiku
Bertanya kabar
Usah kuharap..
Salahkah memimpikan kembali?
Merajut kisah di sana
Ah, tapi lagi-lagi tak berani
Dan aku hanya aku
Dan hanya aku
Entah sebagai apa, tak tau aku
Dan empat aksara pun sepertinya terlalu berbelit
Atau memang tak penting sama sekali?
Ya....
Dan pigura ini terus saja membingkai
Tak peduli aku punya jiwa
Terbingkai....
Dan aku benci senyum itu
Dan semakin tak kuasa menyimak segala tawa
Dan aku semakin jatuh
Jauh....
Jauh....
Dimana bau tanahku?
Dan aku rindu...
Rindu berada di sisi yang tercinta....
Dan piguraku usang
Ada ratusan lain yang patut terlirik
Liriklah....
Tapi jangan pasung aku di sini....
2 November 09
Najmu Tsaqib
Dan engkau telah berjanji memetiknya untukku..
Di masa yang belum jauh lalu..
Saat aku tak bisa menerjemahkan cahaya..
Saat aku tenggelam bersama gerhana..
Dan saat semuanya telah terang sebagai pelita..
Terima kasih telah menjanjikan sinarnya..
Namun tetap saja tak sempurna..
Berharap di keping-keping yang sama..
Tak terangkai seutuhnya atau mungkin belum?
Katamu jangan berhenti berharap..
Dan Najmu Tsaqib itu
Tetap ada di langit kita
Biarkan aku berhitung dalam diam
Biarkan aku menikmati indahnya..
Dari celah langitku di sini..
Berharap rinduku terwakilkan olehnya.....
8 November 09
Di masa yang belum jauh lalu..
Saat aku tak bisa menerjemahkan cahaya..
Saat aku tenggelam bersama gerhana..
Dan saat semuanya telah terang sebagai pelita..
Terima kasih telah menjanjikan sinarnya..
Namun tetap saja tak sempurna..
Berharap di keping-keping yang sama..
Tak terangkai seutuhnya atau mungkin belum?
Katamu jangan berhenti berharap..
Dan Najmu Tsaqib itu
Tetap ada di langit kita
Biarkan aku berhitung dalam diam
Biarkan aku menikmati indahnya..
Dari celah langitku di sini..
Berharap rinduku terwakilkan olehnya.....
8 November 09
Kepingan puzzle itu semakin tersamarkan oleh waktu. Aku takut jika aku tak lagi sanggup mencari kepingan itu dan menyusunnya dengan benar. Dan aku khawatir jika ternyata puzzle itu tak sesuai harapanku. Tiba-tiba aku ingin membasahinya dengan air mata. Bolehkah aku kembali ke tempat di mana aku memulai? Bolehkah aku di sana? Menyelesaikan puzzle-puzzle itu dengan bimbingan waktu.
Hmm...
Kusadari, aku memang terlalu rapuh untuk berada di luar. Namun demi hatinya, aku berjanji tetap menjadi yang terbaik. Biarkan kusembunyikan segala yang tak patut dilihat. Sekalipun terlalu perih, namun aku tak akan menangis di depan matanya.
Aku tak tau, berapa keping lagi yang harus kucari. Aku tak mengerti apakah yang selama ini kususun telah benarkah?
Ya Allah...
Kuatkan hati hamba, biarkan hamba teguh berdiri di atas bumi Mu. Ridhai setiap langkah hamba. Mudahkan segala urusan hamba.
Jika memang kepingan terakhir itu tak sesuai harap hamba, maka biarkan hamba terus memelihara kesyukuran ini.
Izinkan hamba membahagiakannya seindah yang hamba bisa. Jangan biarkan hamba menangis di depannya atau membuatnya menangis. Betapa hamba ingin kepingan puzzle terakhir itu dapat hamba selesaikan bersamanya....
Betapa aku merindukan Ayah dan Bunda...
Ya Allah, hamba mohon kumpulkan kami.....
6 Agust 09
Hmm...
Kusadari, aku memang terlalu rapuh untuk berada di luar. Namun demi hatinya, aku berjanji tetap menjadi yang terbaik. Biarkan kusembunyikan segala yang tak patut dilihat. Sekalipun terlalu perih, namun aku tak akan menangis di depan matanya.
Aku tak tau, berapa keping lagi yang harus kucari. Aku tak mengerti apakah yang selama ini kususun telah benarkah?
Ya Allah...
Kuatkan hati hamba, biarkan hamba teguh berdiri di atas bumi Mu. Ridhai setiap langkah hamba. Mudahkan segala urusan hamba.
Jika memang kepingan terakhir itu tak sesuai harap hamba, maka biarkan hamba terus memelihara kesyukuran ini.
Izinkan hamba membahagiakannya seindah yang hamba bisa. Jangan biarkan hamba menangis di depannya atau membuatnya menangis. Betapa hamba ingin kepingan puzzle terakhir itu dapat hamba selesaikan bersamanya....
Betapa aku merindukan Ayah dan Bunda...
Ya Allah, hamba mohon kumpulkan kami.....
6 Agust 09
Perjalanan 12 Purnama
Akhirnya genap sudah hitungannya menjadi dua belas
Selama itu pergiku meninggalkannya
Selama itu hariku kuhitung sendiri
Selama itu juangku mendewasakan hati
Duhai,
tolong doakan aku dapat kembali
Memulai hari di bawah langit yang membesarkanku
Aku ingin berada di sana
Menuai segala yang kusiangi bersama mereka
Allah
Izinkan hamba berada di sana
Setelah purnama sempurna menjadi dua belas...
8 Agust 09
Selama itu pergiku meninggalkannya
Selama itu hariku kuhitung sendiri
Selama itu juangku mendewasakan hati
Duhai,
tolong doakan aku dapat kembali
Memulai hari di bawah langit yang membesarkanku
Aku ingin berada di sana
Menuai segala yang kusiangi bersama mereka
Allah
Izinkan hamba berada di sana
Setelah purnama sempurna menjadi dua belas...
8 Agust 09
Kepada Sebuah Nama
Terima kasih untuk menuliskan namaku di halaman pertamamu
Begitupun,
telah kukisahkanmu dalam lembar perdanaku
Belum terjangkau olehku menemukan nama untuknya
Namun kuharap,
semoga hanya ada satu lembar dan satu halaman untuk segenap kisah dan seluruh cerita
Salah jika kunamai perjalanan dua hati
Karena sejak pertama, katamu sudah menjadi satu
Dan biarkanlah segalanya mengalir
Berjalan setenangnya
Semoga tak gemuruh, tak keruh
Tak perlu mengikrarkan pada bumi
Biar hanya hati yang menyadari
Dan, seperti kataku
Uraikan ini dalam setiap doa
Karena meski apapun,
hanya Allah yang tau ujung segenap cerita
Mulai sekarang,tapaki saja jalan ini
Semoga seindah harapan
Perjalanan "satu hati"
Terima kasih untuk hari ini
Gerhana itu telah benar-benar pergi dariku
Ya ALLAH, berkahilah...
9-8-9
Begitupun,
telah kukisahkanmu dalam lembar perdanaku
Belum terjangkau olehku menemukan nama untuknya
Namun kuharap,
semoga hanya ada satu lembar dan satu halaman untuk segenap kisah dan seluruh cerita
Salah jika kunamai perjalanan dua hati
Karena sejak pertama, katamu sudah menjadi satu
Dan biarkanlah segalanya mengalir
Berjalan setenangnya
Semoga tak gemuruh, tak keruh
Tak perlu mengikrarkan pada bumi
Biar hanya hati yang menyadari
Dan, seperti kataku
Uraikan ini dalam setiap doa
Karena meski apapun,
hanya Allah yang tau ujung segenap cerita
Mulai sekarang,tapaki saja jalan ini
Semoga seindah harapan
Perjalanan "satu hati"
Terima kasih untuk hari ini
Gerhana itu telah benar-benar pergi dariku
Ya ALLAH, berkahilah...
9-8-9
Untukmu
Terima kasih untuk untaian ayat-ayat pendek itu
Tahukah kenapa aku menangis?
Karena betapa terharunya mendengar tulusmu membaca'a untukku..
Tentang mimpi yang aku tak tahu maknanya
Tolong doakan semuanya baik-baik saja..
Terima kasih untuk segala yang terjadi sepagi ini..
Untukmu,
duhai pemilik sepenggal hati itu
18 Agustus 2009
Tahukah kenapa aku menangis?
Karena betapa terharunya mendengar tulusmu membaca'a untukku..
Tentang mimpi yang aku tak tahu maknanya
Tolong doakan semuanya baik-baik saja..
Terima kasih untuk segala yang terjadi sepagi ini..
Untukmu,
duhai pemilik sepenggal hati itu
18 Agustus 2009
Terlalu banyak hal sepertinya yang berubah di rumah. Begitu kan, Bunda? Tak ada gadis kecilmu yang biasanya malas (hehe). Tak ada meriah menunggu Tante Hasni pulang bersama keluarganya untuk meugang bersama. Nenek tak perlu sibuk kan, Bunda? Karena Tante Hasni ga akan pernah pulang lagi. Tak ada salam di pintu depan, lalu jabatan tangan sambil mencium tangan kecil putihnya.
Ayah, sudah tiba di rumah? Sudah dua Ramadhan nanda tak membangunkanmu ketika sahur. Lalu pergi, sebelum ayah benar-benar bangun. Ayah sih, malas sekali bangun.. Hehe.. Maaf Ayah.
Adikku Ibul, tak ada kakak yang suka marah-marah. Marah karena adek malas. Marah karena adek ga mau ke mesjid, karena adek bantah Bunda. Apa terasa rindu untuk kakak? Kakak yang mungkin ga pernah jadi kakak yang baek...
Adikku Mamay..
Pasti udah sanggup puasa penuh kan? Wah, kakak ga bisa marahin adek lagi karena adek suka gangguin orang buka puasa. Suka ngambil-ngambil kue kakak.
Dek, kalian jagain Ayah ma Bunda ya..
Jagain nenek juga..
Oya, sekarang ada Ila ya?
Baek-baek sama Ila. Ila itu juga adik kita.
Bunda, jangan sedih.
Ayah sama Nenek juga..
Nida baek koq di sini. InsyaAllah lebaran Nda pulang.
Dan aku merindukan malam-malam tarawih di Mesjid itu. Aku merindukan buka puasa bersama di rumah kecil kita. Aku merindukan suasana pengajian dan ceramah-ceramah. Aku rindu saat-saat malas ke mesjid, lalu shalat di rumah bersama Ayah dan Bunda. Aku rindu bantuin Nenek masak daging. Aku rindu semuanya. Tanpa terkecuali.
Namun rinduku tercekat. Bukan karena ada yang mencegat.
Salam Ramadhan dariku
Yang menjalaninya di sini. Tak sendiri, memang. Hanya suasana lain.
Salam Ramadhan Ayah, Bunda, dan semua..
Salam rindu untuk Desa Lamnga..
Salam bangga kepada Aceh....
Semoga Ramadhan ini penuh berkah...
Tunggu aku pulang...
20 Agustus 2009
Ayah, sudah tiba di rumah? Sudah dua Ramadhan nanda tak membangunkanmu ketika sahur. Lalu pergi, sebelum ayah benar-benar bangun. Ayah sih, malas sekali bangun.. Hehe.. Maaf Ayah.
Adikku Ibul, tak ada kakak yang suka marah-marah. Marah karena adek malas. Marah karena adek ga mau ke mesjid, karena adek bantah Bunda. Apa terasa rindu untuk kakak? Kakak yang mungkin ga pernah jadi kakak yang baek...
Adikku Mamay..
Pasti udah sanggup puasa penuh kan? Wah, kakak ga bisa marahin adek lagi karena adek suka gangguin orang buka puasa. Suka ngambil-ngambil kue kakak.
Dek, kalian jagain Ayah ma Bunda ya..
Jagain nenek juga..
Oya, sekarang ada Ila ya?
Baek-baek sama Ila. Ila itu juga adik kita.
Bunda, jangan sedih.
Ayah sama Nenek juga..
Nida baek koq di sini. InsyaAllah lebaran Nda pulang.
Dan aku merindukan malam-malam tarawih di Mesjid itu. Aku merindukan buka puasa bersama di rumah kecil kita. Aku merindukan suasana pengajian dan ceramah-ceramah. Aku rindu saat-saat malas ke mesjid, lalu shalat di rumah bersama Ayah dan Bunda. Aku rindu bantuin Nenek masak daging. Aku rindu semuanya. Tanpa terkecuali.
Namun rinduku tercekat. Bukan karena ada yang mencegat.
Salam Ramadhan dariku
Yang menjalaninya di sini. Tak sendiri, memang. Hanya suasana lain.
Salam Ramadhan Ayah, Bunda, dan semua..
Salam rindu untuk Desa Lamnga..
Salam bangga kepada Aceh....
Semoga Ramadhan ini penuh berkah...
Tunggu aku pulang...
20 Agustus 2009
Di mataku ada bayangannya
Di kepalaku ada belaiannya
Di tubuhku ada sentuhannya, dekapnya, segalanya
Di dalam tubuhku mengalir darahnya
Di hatiku memancar perasaannya
Di sikapku mencerminkan sifatnya
Bunda adalah yang menghangatkan hari dengan cinta
Bunda adalah yang menguatkan di saat lemah
Bunda adalah yang menyemangati di saat rapuh
Bunda adalah yang pertama tersenyum atas setiap kebahagiaanku
Bunda yang membuatkan susu, menungguku habis meminumnya
Bunda yang berdiri di pintu untuk mengantarkan pagiku menuju sekolah
Bunda yang menghulurkan tangan untuk kucium
Bunda yang menitipkan harap untuk kurangkul
Bunda yang tak pernah marah
Bunda yang tangannya tak pernah melukai
Bunda yang senyumnya menghangatkan hati
Bunda yang mengajariku segala
Bunda yang membimbingku melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga
Bunda yang mengatakan kalau anak perempuan harus bisa pekerjaan tangan
Karena tak selamanya kau akan menikah dengan seseorang yang berada
Bunda yang menjahitkan baju lebaran sesuai keinginanku
Bunda yang menuruti hampir segala kemauanku
Bunda yang tak pernah marah padaku
Walaupun aku mungkin telah menyakitinya
Bunda yang mengajariku ikhlas
Melakukan segala tanpa mengharap balas
Bunda yang berpesan agar aku selalu baik pada setiap orang
Bahkan yang menjahatiku sekalipun
Bundaku,
Bukan seperti yang lain mungkin
Bundaku hanya tinggal di rumah untuk mengabdi pada suami
Bunda yang bersedia meninggalkan pekerjaan karena Ayah yang meminta
Karena perempuan harus taat pada suami
Bundaku,
Yang tak akan menangis di depanku
Karena aku harus kuat sepertinya
Bundaku,
Yang menyuapi di kala sakit
Yang menyisirkan rambut di saat aku tak sanggup bahkan untuk memegang sisir
Bundaku,
Yang menanyakan dengan lauk apa aku makan hari ini
Bundaku,
Yang mengisi hatiku dengan cintanya
Bundaku,
Segalanya bagiku
Bundaku,
Aku mencintainya karena Allah
Bundaku,
saat ini aku merindu
Selamat ulang tahun
Bundaku,
Putri semata wayangmu sudah beranjak dewasa
Engkau telah mengabulkan hampir seluruh permintaannya
Bolehkah dia meminta satu hal kini?
Tentang penantian enam puluh purnama.........
Selamat Ulang Tahun Bunda Tercinta
Ternyata Bundaku semakin tua
Sedang aku belum bisa membahagiakannya.........
Maafkanlah aku, Bunda......
Putrimu,
NiDa...
Di kepalaku ada belaiannya
Di tubuhku ada sentuhannya, dekapnya, segalanya
Di dalam tubuhku mengalir darahnya
Di hatiku memancar perasaannya
Di sikapku mencerminkan sifatnya
Bunda adalah yang menghangatkan hari dengan cinta
Bunda adalah yang menguatkan di saat lemah
Bunda adalah yang menyemangati di saat rapuh
Bunda adalah yang pertama tersenyum atas setiap kebahagiaanku
Bunda yang membuatkan susu, menungguku habis meminumnya
Bunda yang berdiri di pintu untuk mengantarkan pagiku menuju sekolah
Bunda yang menghulurkan tangan untuk kucium
Bunda yang menitipkan harap untuk kurangkul
Bunda yang tak pernah marah
Bunda yang tangannya tak pernah melukai
Bunda yang senyumnya menghangatkan hati
Bunda yang mengajariku segala
Bunda yang membimbingku melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga
Bunda yang mengatakan kalau anak perempuan harus bisa pekerjaan tangan
Karena tak selamanya kau akan menikah dengan seseorang yang berada
Bunda yang menjahitkan baju lebaran sesuai keinginanku
Bunda yang menuruti hampir segala kemauanku
Bunda yang tak pernah marah padaku
Walaupun aku mungkin telah menyakitinya
Bunda yang mengajariku ikhlas
Melakukan segala tanpa mengharap balas
Bunda yang berpesan agar aku selalu baik pada setiap orang
Bahkan yang menjahatiku sekalipun
Bundaku,
Bukan seperti yang lain mungkin
Bundaku hanya tinggal di rumah untuk mengabdi pada suami
Bunda yang bersedia meninggalkan pekerjaan karena Ayah yang meminta
Karena perempuan harus taat pada suami
Bundaku,
Yang tak akan menangis di depanku
Karena aku harus kuat sepertinya
Bundaku,
Yang menyuapi di kala sakit
Yang menyisirkan rambut di saat aku tak sanggup bahkan untuk memegang sisir
Bundaku,
Yang menanyakan dengan lauk apa aku makan hari ini
Bundaku,
Yang mengisi hatiku dengan cintanya
Bundaku,
Segalanya bagiku
Bundaku,
Aku mencintainya karena Allah
Bundaku,
saat ini aku merindu
Selamat ulang tahun
Bundaku,
Putri semata wayangmu sudah beranjak dewasa
Engkau telah mengabulkan hampir seluruh permintaannya
Bolehkah dia meminta satu hal kini?
Tentang penantian enam puluh purnama.........
Selamat Ulang Tahun Bunda Tercinta
Ternyata Bundaku semakin tua
Sedang aku belum bisa membahagiakannya.........
Maafkanlah aku, Bunda......
Putrimu,
NiDa...
Seandainya aku belum cukup memahami hukum kausalitas, maka saat ini akulah orang yang akan terus menerus bertanya, kenapa harus aku?
Tapi cukuplah...
Telah memadai aku memahami, telah cukup diriku sendiri untuk mengerti. Maka biarkan saja aku begini, di sini, sendiri mungkin, dengan separuh hati..
Tak, aku tak akan menuntut lebih, tak ada hak. Biarkan saja, Nida...
Tanganku belum cukup kuat menggenggam...
Maka hanya aku,
Nida...
Tak lebih...
Jika aku mulai lelah menghitung, tak akan ada tanya seperti itu yang keluar dari mulut kecilku...
Telah cukup kupapah, tak kan kubiarkan pecah atau sekedar retak saja....
Mushalla KIT SBU
Ya, aku terima..........
31 Agust 09
Tapi cukuplah...
Telah memadai aku memahami, telah cukup diriku sendiri untuk mengerti. Maka biarkan saja aku begini, di sini, sendiri mungkin, dengan separuh hati..
Tak, aku tak akan menuntut lebih, tak ada hak. Biarkan saja, Nida...
Tanganku belum cukup kuat menggenggam...
Maka hanya aku,
Nida...
Tak lebih...
Jika aku mulai lelah menghitung, tak akan ada tanya seperti itu yang keluar dari mulut kecilku...
Telah cukup kupapah, tak kan kubiarkan pecah atau sekedar retak saja....
Mushalla KIT SBU
Ya, aku terima..........
31 Agust 09
Purnama Kita
Purnama berbilang dengan hitungan yang berbeda
Kali ini menyentuh kata pertama
Mesti kuhitung lima puluh sembilan lagi setidaknya
Begitu bukan?
Kapan segalanya menjadi sama?
Tak hanya langit, tapi juga langit-langit
Agar separuh hati dapat menemukan separuh yang lain
Purnama....
Katamu langitmu indah
Kapan menjemputku?
Menghitung bintang, ada berapa semuanya
Menunjuk yang paling terang, najmu tsaqib kita...
Aku Nida
Tak mengapa kau sebut An_Khafiyya
Tak seindah huurun 'ain, atau khairatun hisan
Namun terserahmu
Apapun panggilanmu
Aku hanya ingin engkau bahagia......
Kepada : Pemilik separuh hatiku...
Selamat tidur...
Mimpi indah.....
Kali ini menyentuh kata pertama
Mesti kuhitung lima puluh sembilan lagi setidaknya
Begitu bukan?
Kapan segalanya menjadi sama?
Tak hanya langit, tapi juga langit-langit
Agar separuh hati dapat menemukan separuh yang lain
Purnama....
Katamu langitmu indah
Kapan menjemputku?
Menghitung bintang, ada berapa semuanya
Menunjuk yang paling terang, najmu tsaqib kita...
Aku Nida
Tak mengapa kau sebut An_Khafiyya
Tak seindah huurun 'ain, atau khairatun hisan
Namun terserahmu
Apapun panggilanmu
Aku hanya ingin engkau bahagia......
Kepada : Pemilik separuh hatiku...
Selamat tidur...
Mimpi indah.....
Dua kata
Katanya satu hati
Aku jadi mengerti makna berbeda
Dua kata
Katanya satu jiwa
Aku jadi melihat dua pribadi
Dua kata
Katanya tak dusta
Aku jadi mengira tentang rasa
Dua kata
Sama sekali tak sama
Mana yang benar
Mana yang dapat dipercaya
Dua kata
Sepertinya aku di tepi saja
Katanya aku sederhana
Kataku aku tak punya sempurna
Kata-kata atau arti pesona
Dua kata
Mungkin untuknya saja
Karena aku tak yakin
Dan selalu saja tak dapat membaca pertanda
Kepada : si pemilik dua kata
Mengapa segalanya jadi begitu berbeda?
26 Juni 2009
Katanya satu hati
Aku jadi mengerti makna berbeda
Dua kata
Katanya satu jiwa
Aku jadi melihat dua pribadi
Dua kata
Katanya tak dusta
Aku jadi mengira tentang rasa
Dua kata
Sama sekali tak sama
Mana yang benar
Mana yang dapat dipercaya
Dua kata
Sepertinya aku di tepi saja
Katanya aku sederhana
Kataku aku tak punya sempurna
Kata-kata atau arti pesona
Dua kata
Mungkin untuknya saja
Karena aku tak yakin
Dan selalu saja tak dapat membaca pertanda
Kepada : si pemilik dua kata
Mengapa segalanya jadi begitu berbeda?
26 Juni 2009
Tak ada yang sempurna di dunia ini. Begitupun aku. Entah atas dasar apa kau menyatakannya. Jangan terlalu jauh. Kumohon. Bila aku tak lagi punya jawaban,bagaimanakah?
Cukup suaramu mengusik hatiku malam ini. Duhai, jangan pertanyakan rasaku. Aku ingin tidur, dan mungkin tetap akan memanggilmu saudara..
Teruntuk : brother in LG.
Nida tak sempurna..
Krn no body's perfect kan?
27 Juni 2009
Cukup suaramu mengusik hatiku malam ini. Duhai, jangan pertanyakan rasaku. Aku ingin tidur, dan mungkin tetap akan memanggilmu saudara..
Teruntuk : brother in LG.
Nida tak sempurna..
Krn no body's perfect kan?
27 Juni 2009
Untukku, Tentangnya...
Dia bersembunyi sendiri. Di suatu tempat yang tak terjangkau matahari. Tak pernah terkena sinar UV, polusi, maupun air hujan. Terlindungi. Sama sekali terlindungi. Telah cukup lama hidup bersama. Namun aku tak cukup memahaminya. Aku tak mengerti, ya, seringkali tak mengerti padanya.
Terkadang, dia menjadi begitu egois, agresif, dan entah bagaimana. Sama sekali tak mau mendengar kata-kataku. Dia memang tak mau berdiskusi denganku dalam beberapa hal. Dan keputusan yang dia ambil kadang membuatku tersudut dan terluka.
Dia membuatku menangis, namun tak jarang dia juga membuatku tertawa. Bagaimana bisa aku mendeskripsikannya. Sedang aku sendiri tak cukup mengenalnya. Kadang kami bertengkar, dan seringkali aku kalah atas kata-kata diamnya. Aku tau, saat aku menangis, dia juga terluka. Aku tau itu,dia bisa merasakan segala rasaku.
Aku ingin minta maaf padanya. Karenaku, dia mungkin tak sesuci dulu. Saat pertama kali aku bertemu dengannya. Aku menggores-goresnya, aku mengotorinya, aku menghitamkannya...
Ya Allah...
Tolong jaga dia untukku...
Aku tak mau terus menerus menyakitinya...
Karena aku tau, sepenuhnya tau...
Dia sepertiku, dia milik Mu......
Kepadanya,
yang dianugerahkan padaku...
1 Juli 2009
Terkadang, dia menjadi begitu egois, agresif, dan entah bagaimana. Sama sekali tak mau mendengar kata-kataku. Dia memang tak mau berdiskusi denganku dalam beberapa hal. Dan keputusan yang dia ambil kadang membuatku tersudut dan terluka.
Dia membuatku menangis, namun tak jarang dia juga membuatku tertawa. Bagaimana bisa aku mendeskripsikannya. Sedang aku sendiri tak cukup mengenalnya. Kadang kami bertengkar, dan seringkali aku kalah atas kata-kata diamnya. Aku tau, saat aku menangis, dia juga terluka. Aku tau itu,dia bisa merasakan segala rasaku.
Aku ingin minta maaf padanya. Karenaku, dia mungkin tak sesuci dulu. Saat pertama kali aku bertemu dengannya. Aku menggores-goresnya, aku mengotorinya, aku menghitamkannya...
Ya Allah...
Tolong jaga dia untukku...
Aku tak mau terus menerus menyakitinya...
Karena aku tau, sepenuhnya tau...
Dia sepertiku, dia milik Mu......
Kepadanya,
yang dianugerahkan padaku...
1 Juli 2009
12 - 1
Hampir genap perjalanan dalam hitungan dua belas. Purnama terus saja hadir di langitku. Menambah umur dan mengurangi usiaku sesuai perintahNya. Saat ini segalanya sedang menghimpit hatiku. Membuatku harus bersusah payah menahan agar air mata tak tertumpah.
Lagi-lagi aku jadi begitu lemah. Sangat. Adakah yang bisa menopang hatiku agar tak terjerambab? Sungguh, saat ini aku benar-benar ingin menangis. Bercerita apa saja dalam isakanku.
Dua belas dikurangi satu. Kali ini lebih berat dari yang sebelumnya. Segalanya dalam kegelapan. Meski purnama jelas terlihat tanpa hijab. Tersenyumkah ia?
Ya Allah...
Mengapa hati hamba begitu lemahnya..
Tolong kuatkan sedikit saja, agar hamba tetap bisa berdiri menatap sinarnya..
Dan tolong tahankan air mata ini hingga waktu sebelas jam lagi..
Biarkan hamba menangis.....
Untuk kesekian kalinya..
Dan izinkan hamba bercerita pada Mu..
Atau utuslah seorang makhluk untuk menghiburku nanti malam...
Maafkan hamba,
ampuni hamba...
Terima kasih, Allah...
9 Juli 2009
Lagi-lagi aku jadi begitu lemah. Sangat. Adakah yang bisa menopang hatiku agar tak terjerambab? Sungguh, saat ini aku benar-benar ingin menangis. Bercerita apa saja dalam isakanku.
Dua belas dikurangi satu. Kali ini lebih berat dari yang sebelumnya. Segalanya dalam kegelapan. Meski purnama jelas terlihat tanpa hijab. Tersenyumkah ia?
Ya Allah...
Mengapa hati hamba begitu lemahnya..
Tolong kuatkan sedikit saja, agar hamba tetap bisa berdiri menatap sinarnya..
Dan tolong tahankan air mata ini hingga waktu sebelas jam lagi..
Biarkan hamba menangis.....
Untuk kesekian kalinya..
Dan izinkan hamba bercerita pada Mu..
Atau utuslah seorang makhluk untuk menghiburku nanti malam...
Maafkan hamba,
ampuni hamba...
Terima kasih, Allah...
9 Juli 2009
Hujan selalu menyuburkan kerinduan terhadap rumah. Jika hujan turun, dan aku tak berada di rumah, Bunda pasti akan menghubungiku. Menanyakan dimana keberadaan puterinya. Dan aku akan selalu berusaha sebisa mungkin untuk tiba di rumah secepatnya. Kalian tau kenapa? Karena salah satu ritual yang paling aku suka saat hujan adalah berdiri di depan jendela dan memandang rintik-rintiknya.
Jika hujan turun tengah malam, lalu ada petir, Bunda pasti akan membuka pintu kamarku dan bertanya, berani tidur sendiri? Dan aku tentu saja memilih tidur dengan ditemani Bunda karena aku takut petir.
Jika hujan turun di sore hari, Bunda pasti akan menyiapkan makanan kecil untuk kami. Bunda akan menunggu kami pulang. Jika kami kehujanan, Bunda akan segera menyodorkan handuk dan pakaian kering. Jika hujan turun, Ayah dan Bunda tak ada di rumah, maka aku akan menghubungi berulang kali. Memastikan mereka baik-baik saja.
Dan sekarang, langitku berbeda dengan langit Bunda dan langit Ayah. Jika hujan, aku melihat rintiknya sendiri. Aku mensyukurinya dalam sepi. Jika hujan turun, aku tak akan menemui Bunda yang menungguku pulang.
Dan sekarang, aku benar-benar merindukan Bunda dan Ayah. Aku rindu suara mereka. Aku rindu nasehat mereka. Aku rindu kasih sayang mereka. Aku rindu cinta mereka. Yang selalu menganggapku penting. Aku rindu segalanya.
Dan aku selalu mengingat setiap kata dari mereka. Aku sedang rapuh. Aku rindu Bunda dan Ayah. Karena tak ada seorangpun yang dapat menggantikan kedudukan mereka. Dan tak ada seorangpun yang bisa melebihi kasih sayang mereka kepadaku.
Terima kasih, Allah..
Untuk Ayah dan Bunda tercinta...
9 Juli 2009
Jika hujan turun tengah malam, lalu ada petir, Bunda pasti akan membuka pintu kamarku dan bertanya, berani tidur sendiri? Dan aku tentu saja memilih tidur dengan ditemani Bunda karena aku takut petir.
Jika hujan turun di sore hari, Bunda pasti akan menyiapkan makanan kecil untuk kami. Bunda akan menunggu kami pulang. Jika kami kehujanan, Bunda akan segera menyodorkan handuk dan pakaian kering. Jika hujan turun, Ayah dan Bunda tak ada di rumah, maka aku akan menghubungi berulang kali. Memastikan mereka baik-baik saja.
Dan sekarang, langitku berbeda dengan langit Bunda dan langit Ayah. Jika hujan, aku melihat rintiknya sendiri. Aku mensyukurinya dalam sepi. Jika hujan turun, aku tak akan menemui Bunda yang menungguku pulang.
Dan sekarang, aku benar-benar merindukan Bunda dan Ayah. Aku rindu suara mereka. Aku rindu nasehat mereka. Aku rindu kasih sayang mereka. Aku rindu cinta mereka. Yang selalu menganggapku penting. Aku rindu segalanya.
Dan aku selalu mengingat setiap kata dari mereka. Aku sedang rapuh. Aku rindu Bunda dan Ayah. Karena tak ada seorangpun yang dapat menggantikan kedudukan mereka. Dan tak ada seorangpun yang bisa melebihi kasih sayang mereka kepadaku.
Terima kasih, Allah..
Untuk Ayah dan Bunda tercinta...
9 Juli 2009
Karena Allah Begitu Menicintai Qta
Kau lihat tingginya langit itu?
Kau lihat luasnya hamparan bumi itu?
Kau lihat segalanya?
Kau tahu bukan?
Segalanya berhikmah dan bermakna
Kau mengerti bukan?
Kasih Allah tak bertepi
Cinta Allah tak pernah mati
Kau tahu dua mata yang tak akan disiksa saat hari pembalasan?
Bukanlah mata manusia yang menangisi takdirnya
Kau tahu?
Dua mata itu adalah mata yang berjaga di waktu perang
dan mata yang selalu menangisi dosa
Dalam setiap detik itu
Keridahaan Allah menemani langkahmu
Dalam setiap menit itu
Rahmat Allah memelukmu
Keberkahan Allah menghiasi setiap helaan nafasmu
Dan Allah selalu menyelipkan kemudahan di setiap urusanmu
Mungkin kita memang tak dapat melihat wujud dari segala itu
Namun tak butuh keraguan bagimu mengenai segala
Segala yang tercipta tak pernah sia-sia
Segala yang terjadi selalu disertai hikmah di sela-selanya
Maka syukurilah segala, di setiap waktumu, di setiap hembusan nafasmu
Alhamdulillah
Semoga cinta Allah meliputi hati dan jiwa kita....
Aamiiin...
Ditulis karena ragunya seseorang terhadap takdir.....
Percayalah,
Allah begitu cintaNya pada qta.....
29 Juli 2009
Kau lihat luasnya hamparan bumi itu?
Kau lihat segalanya?
Kau tahu bukan?
Segalanya berhikmah dan bermakna
Kau mengerti bukan?
Kasih Allah tak bertepi
Cinta Allah tak pernah mati
Kau tahu dua mata yang tak akan disiksa saat hari pembalasan?
Bukanlah mata manusia yang menangisi takdirnya
Kau tahu?
Dua mata itu adalah mata yang berjaga di waktu perang
dan mata yang selalu menangisi dosa
Dalam setiap detik itu
Keridahaan Allah menemani langkahmu
Dalam setiap menit itu
Rahmat Allah memelukmu
Keberkahan Allah menghiasi setiap helaan nafasmu
Dan Allah selalu menyelipkan kemudahan di setiap urusanmu
Mungkin kita memang tak dapat melihat wujud dari segala itu
Namun tak butuh keraguan bagimu mengenai segala
Segala yang tercipta tak pernah sia-sia
Segala yang terjadi selalu disertai hikmah di sela-selanya
Maka syukurilah segala, di setiap waktumu, di setiap hembusan nafasmu
Alhamdulillah
Semoga cinta Allah meliputi hati dan jiwa kita....
Aamiiin...
Ditulis karena ragunya seseorang terhadap takdir.....
Percayalah,
Allah begitu cintaNya pada qta.....
29 Juli 2009
Tak Tau Kepada
Telah kulihat,
sebelum kuputuskan menghitung purnama
Tak terpatri,
hanya muncul sendiri
Terlalu aku,
sangat bahkan
Siapa??
Entah kan, jawabnya?
Seharusnya tak perlu kusiangi
Lagi,
berjeda sedikit
Tak beda,
frekuensi yang semakin tinggi
Terhempas
Tak sejauh perginya
Katanya dirundung ketawa
Aku saja tak tau maknanya
Negerinya bukan berantah
Hanya aku saja yang ternyata entah
Hehe...
Akhirnya kuulang kembali kalimat ini
Sama sekali aku lupa harinya
Saat langitku kelabu
Saat mendung menggelayuti atapmu
Dua wajah matahari
Begitu kataku suatu waktu
Tapi akhirnya kembali
Tak sampai hitungan dua puluh empat
Tapi kau harus yakin,
aku masih rindu
Dunia kecil hampir dewasa,
tinggal aku meneruskan harapan
Malam ku hadirmu
Sudah lama tak kulihat
Hanya air dan deru gelombang saja
Terbangun, tak lagi sanggup tertegun
Dunia kecil sudah dewasa
Hari-hari telah berbeda
Pulangku tak ada wajahmu
Kembaliku hanya katamu
Menyesalkah?
Aku memang mendustai kalian
Aku ingat bahagianya
Sampai hari ini tetap kusimpan
Aku lengah
Membiarkannya terbagi
Berbeda lagi
Dan aku semakin hilang
Betul kata-kata yang tinggi
Hanya lagi-lagi kutampik
Aku hanya pendiam
Aku hanya pemendam
Segalanya berlalu,
tapi kita harap tiada akhir
Hitungan purnama dua belas,
semakin dekat
kembalinya masih empat puluh delapan
Masih terlalu banyak kuhitung dengan jari
Aku ingin meminjam alatmu
Tapi aku lupa namanya
Bahkan aku lupa cara memakainya,
aku terpana saat kau berkata
Beginilah jadinya
Telah kau lihat putihnya salju?
Kau ingat seperti pelangi?
Begitulah, ukhti
Begitu caraku mencintai...
Semoga sesuci nama anak itu
Yang dikirim Allah kepada kakakmu
Dunia semakin tua
Harusnya aku lebih dewasa
Bukan seperti dulu
Aku jauh,
ragaku tak lagi di sana
Untukmu kata,
boleh saja tak usah kau beri makna
Hatiku tak terasa
Tak punya pertanda
Bukankah sudah kukatakan lebih dari dua?
Maka hanya aku yang kau panggil Nida
Tak lebih dari sekedar nama
Selebihnya tak ada maknanya
Ah, aku berhenti di sini saja
Segala ini aku saja tak tau maknanya
Aku hampir lupa
Jika tak lama lagi akan hadir purnama.............
30 Juli 2009
sebelum kuputuskan menghitung purnama
Tak terpatri,
hanya muncul sendiri
Terlalu aku,
sangat bahkan
Siapa??
Entah kan, jawabnya?
Seharusnya tak perlu kusiangi
Lagi,
berjeda sedikit
Tak beda,
frekuensi yang semakin tinggi
Terhempas
Tak sejauh perginya
Katanya dirundung ketawa
Aku saja tak tau maknanya
Negerinya bukan berantah
Hanya aku saja yang ternyata entah
Hehe...
Akhirnya kuulang kembali kalimat ini
Sama sekali aku lupa harinya
Saat langitku kelabu
Saat mendung menggelayuti atapmu
Dua wajah matahari
Begitu kataku suatu waktu
Tapi akhirnya kembali
Tak sampai hitungan dua puluh empat
Tapi kau harus yakin,
aku masih rindu
Dunia kecil hampir dewasa,
tinggal aku meneruskan harapan
Malam ku hadirmu
Sudah lama tak kulihat
Hanya air dan deru gelombang saja
Terbangun, tak lagi sanggup tertegun
Dunia kecil sudah dewasa
Hari-hari telah berbeda
Pulangku tak ada wajahmu
Kembaliku hanya katamu
Menyesalkah?
Aku memang mendustai kalian
Aku ingat bahagianya
Sampai hari ini tetap kusimpan
Aku lengah
Membiarkannya terbagi
Berbeda lagi
Dan aku semakin hilang
Betul kata-kata yang tinggi
Hanya lagi-lagi kutampik
Aku hanya pendiam
Aku hanya pemendam
Segalanya berlalu,
tapi kita harap tiada akhir
Hitungan purnama dua belas,
semakin dekat
kembalinya masih empat puluh delapan
Masih terlalu banyak kuhitung dengan jari
Aku ingin meminjam alatmu
Tapi aku lupa namanya
Bahkan aku lupa cara memakainya,
aku terpana saat kau berkata
Beginilah jadinya
Telah kau lihat putihnya salju?
Kau ingat seperti pelangi?
Begitulah, ukhti
Begitu caraku mencintai...
Semoga sesuci nama anak itu
Yang dikirim Allah kepada kakakmu
Dunia semakin tua
Harusnya aku lebih dewasa
Bukan seperti dulu
Aku jauh,
ragaku tak lagi di sana
Untukmu kata,
boleh saja tak usah kau beri makna
Hatiku tak terasa
Tak punya pertanda
Bukankah sudah kukatakan lebih dari dua?
Maka hanya aku yang kau panggil Nida
Tak lebih dari sekedar nama
Selebihnya tak ada maknanya
Ah, aku berhenti di sini saja
Segala ini aku saja tak tau maknanya
Aku hampir lupa
Jika tak lama lagi akan hadir purnama.............
30 Juli 2009
Kemarin kukira, kerinduan itu seperti bara api yang menyala..
Maka saat hujan turun, kubiarkan saja dia kuyup agar padam..
Namun tahukah? Ternyata hanya gigil saja yang tersisa di tubuhku..
Menyusul kesakitan yang tiada kumau..
Hari ini kupikir, kerinduan itu seperti cucian basah..
Maka kubiarkan dia di bawah panas..
Supaya matahari membantu menguapkannya..
Tapi ternyata, hanya ada gerah yang tertinggal untukku..
Maka terangkan padaku, seperti apa sebenar-benar wujudnya?
Dan jelaskan pada seorang aku, bagaimana harus aku menyikapi?
Pertanyaan yang terus menerus terhujam padaku..
"Kapan pulang, Nida?"
sebaik apa aku harus menjawab?
25 Mei 2009
Maka saat hujan turun, kubiarkan saja dia kuyup agar padam..
Namun tahukah? Ternyata hanya gigil saja yang tersisa di tubuhku..
Menyusul kesakitan yang tiada kumau..
Hari ini kupikir, kerinduan itu seperti cucian basah..
Maka kubiarkan dia di bawah panas..
Supaya matahari membantu menguapkannya..
Tapi ternyata, hanya ada gerah yang tertinggal untukku..
Maka terangkan padaku, seperti apa sebenar-benar wujudnya?
Dan jelaskan pada seorang aku, bagaimana harus aku menyikapi?
Pertanyaan yang terus menerus terhujam padaku..
"Kapan pulang, Nida?"
sebaik apa aku harus menjawab?
25 Mei 2009
Manusia Khayalan
Pergilah...
Karena aku telah merelakanmu sejak hari pertama aku tahu bahwa aku tak dapat menyentuh namamu
Aku merelakanmu sejak hari pertama aku tahu bahwa kau bukanlah seseorang yang akan menuliskan namaku dalam barismu
Tapi kau harus tahu, aku tak akan melupakanmu
Bahkan sejak hari pertama aku tahu bahwa kau tak menganggapku apa-apa
Bahkan sejak hari pertama aku tahu bahwa kau memilih pergi dengan jarak terjauh yang pernah aku tahu
Berjuta kilometer meninggalkan hatiku
Pergi saja,
Kau lihat kan?
Aku tak menangis....
Tak perlu pulang untukku,
Karena aku tak boleh menunggumu..
Hatiku milikku, dan salahku menerjemahkanmu....
Mungkin memang begitu benarnya......
Di sisi langit mana kau berada sekarang?
Ah, bahkan aku tak lagi tahu tentang itu.....
Karena pandanganku terhalang di samuderamu yang tak bertepi....
27 Mei 2009
Karena aku telah merelakanmu sejak hari pertama aku tahu bahwa aku tak dapat menyentuh namamu
Aku merelakanmu sejak hari pertama aku tahu bahwa kau bukanlah seseorang yang akan menuliskan namaku dalam barismu
Tapi kau harus tahu, aku tak akan melupakanmu
Bahkan sejak hari pertama aku tahu bahwa kau tak menganggapku apa-apa
Bahkan sejak hari pertama aku tahu bahwa kau memilih pergi dengan jarak terjauh yang pernah aku tahu
Berjuta kilometer meninggalkan hatiku
Pergi saja,
Kau lihat kan?
Aku tak menangis....
Tak perlu pulang untukku,
Karena aku tak boleh menunggumu..
Hatiku milikku, dan salahku menerjemahkanmu....
Mungkin memang begitu benarnya......
Di sisi langit mana kau berada sekarang?
Ah, bahkan aku tak lagi tahu tentang itu.....
Karena pandanganku terhalang di samuderamu yang tak bertepi....
27 Mei 2009
Bagaimana kalau aku benar-benar tentangnya?
Bagaimana kalau aku memang benar-benar tentangnya?
Bagaimana jika suatu hari aku benar-benar?
Bagaimana seandainya aku benar-benar??
Apa memang semuanya akan benar-benar?
Bagaimana jika semuanya memang benar?
Apa yang benar-benar harus aku katakan?
Apa yang benar-benar harus aku lakukan?
Apakah memang semuanya memang benar-benar benar?
Dan akhirnya aku benar-benar tak mengerti
Apa semuanya masih benar???
28 Mei 2009
Bagaimana kalau aku memang benar-benar tentangnya?
Bagaimana jika suatu hari aku benar-benar?
Bagaimana seandainya aku benar-benar??
Apa memang semuanya akan benar-benar?
Bagaimana jika semuanya memang benar?
Apa yang benar-benar harus aku katakan?
Apa yang benar-benar harus aku lakukan?
Apakah memang semuanya memang benar-benar benar?
Dan akhirnya aku benar-benar tak mengerti
Apa semuanya masih benar???
28 Mei 2009
Catatan Janji
Kubuat ini atas nama seseorang. Tapi aku tak akan pernah menyebutkannya di sini. Biarkan hanya Allah yang tau, serta aku dan dia yang mengerti.
Aku tak ingat berapa banyak janji yang telah terucap di antara kami. Dan bagaimana bisa aku memastikan, bahwa segala itu akan bisa tertepati pada saatnya. Dan kali ini, biar aku yang menepati janjiku padanya. Janji yang terucap begitu saja. Dan ternyata dia menagihnya. Dan aku akan menepati. Tak perlu dia menunggu hingga suatu waktu. Seperti dia memintaku menunggu. (Tak bermaksud menyindir nie...hehe).
Bermula dari sepatah kalimat. Entah, aku tak tau bagaimana bisa dia mendapatkan kalimat itu. Katanya muncul begitu saja di suatu malam. Kalimat yang akan selalu dia keluarkan untukku. Ah, dasar penggoda. Begitu aku menamainya.
Dan kalimat itu, membuatku harus memikirkan apa isi dari catatan ini. Dan biarlah aku menamainya catatan janji. Karena dia harus tau, dia yang lebih banyak mengucapkan janji padaku. Biar kuhitung, satu, dua, tiga, entah berapa sudah. (hehe, bener kan? tak terhitung lagi janjimu). Apa saja, bahkan dia pernah berjanji memetik bintang untukku. Bintang paling terang, najmu tsaqib. (begitu, kan?)
Tapi tak mengapa. Aku tak marah padanya. Paling tidak dia mendukungku untuk mewarnai pelangi. Dan bila memang aku bisa, janjiku mencantumkan namanya di sana. Di pelangi itu.
Biarkan saja orang-orang bingung, aku tak peduli. Dan saat dia membaca ini, apakah dia akan tersinggung? Ah, aku rasa tidak.
Hey, apa kabar hatinya? Langitnya?
Dan apa kabar janjinya?
Meminjam kata-kata Khaleed Hossaini dalam The Kite Runner,
aku akan tersenyum untuknya (^_^)
Untukmu, yang keseribu kalinya.....
3 Juni 2009
Aku tak ingat berapa banyak janji yang telah terucap di antara kami. Dan bagaimana bisa aku memastikan, bahwa segala itu akan bisa tertepati pada saatnya. Dan kali ini, biar aku yang menepati janjiku padanya. Janji yang terucap begitu saja. Dan ternyata dia menagihnya. Dan aku akan menepati. Tak perlu dia menunggu hingga suatu waktu. Seperti dia memintaku menunggu. (Tak bermaksud menyindir nie...hehe).
Bermula dari sepatah kalimat. Entah, aku tak tau bagaimana bisa dia mendapatkan kalimat itu. Katanya muncul begitu saja di suatu malam. Kalimat yang akan selalu dia keluarkan untukku. Ah, dasar penggoda. Begitu aku menamainya.
Dan kalimat itu, membuatku harus memikirkan apa isi dari catatan ini. Dan biarlah aku menamainya catatan janji. Karena dia harus tau, dia yang lebih banyak mengucapkan janji padaku. Biar kuhitung, satu, dua, tiga, entah berapa sudah. (hehe, bener kan? tak terhitung lagi janjimu). Apa saja, bahkan dia pernah berjanji memetik bintang untukku. Bintang paling terang, najmu tsaqib. (begitu, kan?)
Tapi tak mengapa. Aku tak marah padanya. Paling tidak dia mendukungku untuk mewarnai pelangi. Dan bila memang aku bisa, janjiku mencantumkan namanya di sana. Di pelangi itu.
Biarkan saja orang-orang bingung, aku tak peduli. Dan saat dia membaca ini, apakah dia akan tersinggung? Ah, aku rasa tidak.
Hey, apa kabar hatinya? Langitnya?
Dan apa kabar janjinya?
Meminjam kata-kata Khaleed Hossaini dalam The Kite Runner,
aku akan tersenyum untuknya (^_^)
Untukmu, yang keseribu kalinya.....
3 Juni 2009
Purnama Kesepuluh
Jangan salahkan aku menangis..
Tapi salahkan kerinduan yang terus menghujamku..
Menjamah mimpiku, menjajah lamunanku..
Duh, purnama..
Kapan aku bisa kembali?
Telah kuhitung sampai sepuluh...
Namun aku masih di sini..
Dan sepertinya tak ada yang bisa memberi sedikit saja harapan..
Bahkan sekedar mencoba saja..
Purnama..
Hingga keberapa harus kuhitung?
Bagaimana kuterjemahkan kerinduan?
Adakah yang mencoba peduli?
Sedikit saja pada seorang Nida...
Dan dalam rintik hujan tadi malam,
Aku menunggumu...
Tidakkah kau tahu?
Akulah yang berayun bersama angin..
Namun sepertinya langitku memang terlalu kelam sejak kehadiranmu sebulan lalu....
8 Juni 2009
Tapi salahkan kerinduan yang terus menghujamku..
Menjamah mimpiku, menjajah lamunanku..
Duh, purnama..
Kapan aku bisa kembali?
Telah kuhitung sampai sepuluh...
Namun aku masih di sini..
Dan sepertinya tak ada yang bisa memberi sedikit saja harapan..
Bahkan sekedar mencoba saja..
Purnama..
Hingga keberapa harus kuhitung?
Bagaimana kuterjemahkan kerinduan?
Adakah yang mencoba peduli?
Sedikit saja pada seorang Nida...
Dan dalam rintik hujan tadi malam,
Aku menunggumu...
Tidakkah kau tahu?
Akulah yang berayun bersama angin..
Namun sepertinya langitku memang terlalu kelam sejak kehadiranmu sebulan lalu....
8 Juni 2009
Nida, selamat pagi...
Apa kabarmu, Nida?
Sepertinya aku tak terlalu baik...
Sepertinya aku sedang terluka...
Tapi, Nida...
Aku tak tahu mengapa...
Kau tahu, kan Nida?
Tentang hatiku?
Nah, bagaimana Nida?
Aku sepertinya memang terluka
Nida, aku tak mengerti..
Sehalus apa lagi harusku memapah hati?
Kau tahu kan, Nida?
Telah kulakukan dengan cara terbaik yang aku bisa..
Tapi mengapa, Nida?
Nida, sepertinya aku belum cukup kuat..
Masalahnya sepertinya akan menemui kerumitan..
Entah jarak, entah waktu...
Bagaimana kalau semuanya tak bisa menyatu...
Nida...
Aku ingin menyadarkanmu...
Apa perlu kubasuh wajahmu atau kutenggelamkan jiwamu bersama hatiku?
Nida....
Hatiku tak berkabar...
Dimana dia, Nida?
Sepertinya memang aku terluka...
Luka yang aku tak tahu mengapa..
Nida...
Aku sepertinya terluka
Dilukai oleh hatiku sendiri...
Tolong bangunkan aku, Nida...
Aku takut mimpi ini buruk di kesudahan..
Biarkan aku meniti kenyataan
Meski aku jelas-jelas tahu, Nida
Sepertinya aku telah terluka....
9 Juni 2009
Apa kabarmu, Nida?
Sepertinya aku tak terlalu baik...
Sepertinya aku sedang terluka...
Tapi, Nida...
Aku tak tahu mengapa...
Kau tahu, kan Nida?
Tentang hatiku?
Nah, bagaimana Nida?
Aku sepertinya memang terluka
Nida, aku tak mengerti..
Sehalus apa lagi harusku memapah hati?
Kau tahu kan, Nida?
Telah kulakukan dengan cara terbaik yang aku bisa..
Tapi mengapa, Nida?
Nida, sepertinya aku belum cukup kuat..
Masalahnya sepertinya akan menemui kerumitan..
Entah jarak, entah waktu...
Bagaimana kalau semuanya tak bisa menyatu...
Nida...
Aku ingin menyadarkanmu...
Apa perlu kubasuh wajahmu atau kutenggelamkan jiwamu bersama hatiku?
Nida....
Hatiku tak berkabar...
Dimana dia, Nida?
Sepertinya memang aku terluka...
Luka yang aku tak tahu mengapa..
Nida...
Aku sepertinya terluka
Dilukai oleh hatiku sendiri...
Tolong bangunkan aku, Nida...
Aku takut mimpi ini buruk di kesudahan..
Biarkan aku meniti kenyataan
Meski aku jelas-jelas tahu, Nida
Sepertinya aku telah terluka....
9 Juni 2009
Larutan Rasa
Bantu aku mentitrasi rasa. Agar tetap terjaga netral sebagai larutan ber pH 7. Tak hendak memerahkan lakmus biru, atau membirukan lakmus merah. Biarkan segalanya seperti ini, meski mungkin aku kecewa. Bantu aku menemukan koefisien yang tepat. Agar reaksiku setimbang antara kiri dan kanan. Bantu aku mentitrasi rasa. Biarkan larutanku netral sebagaimana mestinya.
Karena aku hanya khawatir, jika asamku terlalu kuat, dan basanya terlalu lemah. Aku takut reaksi tak akan terjadi. Tak akan menghasilkan garam dan air. Aku takut hanya ada kecewa di kesudahan. Saat kulihat laju reaksi = 0.
Aku ingin rasaku tetap netral. Bukan asam, basa ataupun garam yang tergolong elektrolit kuat yang dapat menghantarkan listrik. Bukan pula asam maupun basa lemah. Biarkan aku kecewa di awal, dari pada aku menangis di penghujung.....
15 Juni 2009
Karena aku hanya khawatir, jika asamku terlalu kuat, dan basanya terlalu lemah. Aku takut reaksi tak akan terjadi. Tak akan menghasilkan garam dan air. Aku takut hanya ada kecewa di kesudahan. Saat kulihat laju reaksi = 0.
Aku ingin rasaku tetap netral. Bukan asam, basa ataupun garam yang tergolong elektrolit kuat yang dapat menghantarkan listrik. Bukan pula asam maupun basa lemah. Biarkan aku kecewa di awal, dari pada aku menangis di penghujung.....
15 Juni 2009
Tentang Merpati
Entah kenapa, Nida. Tiba-tiba aku teringat merpati. Kau ingat, Nida? Hmm.. Sekitar empat tahun yang lalu, kan? Hehe.. Kadang itu cuma membuatku tertawa, Nda. Merpati, mengapa pula harus merpati?
Aku tak tau jelas, bahkan aku hanya menemukan sisa lembaran yang tak sengaja. Bukan banyak hal, hanya secarik nama.
Saat merpati datang, lalu terbang, saat segalanya masih saja tentang gelombang. Nida masih kecil, Nida tak punya sayap. Dan sampai kapanpun Nida tak akan punya sayap. Nida harus sadar, serendah apapun merpati terbang, Nida tetap tak bisa menyusulnya.
Nida tidak lupa, kan? Kalau seorang Nida masih takut pada ketinggian. Meski kini aku akan memberikan setengah jempol karena Nida telah lebih berani menatap ke bawah saat berada di ketinggian. Tak gemetar seperti dulu. Wah, Nida hebat. Tapi Nida harus sembuh total. Begitu harapanku. Agar suatu saat Nida bisa ikut menjamah ketinggian bersamaku.
Nida, bukan menjajah ingatanmu. Hanya aku teringat saja. Mengapa begitu banyak hal terjadi di kehidupan? Betapa banyak pemeran yang hadir dan melakonkan skenario tak terduga. Lalu semuanya sama saja, pergi. Terbang menghilang seperti merpati meninggalkan sisa kehancuran.
Apa kabar dia, ya?
Bahkan aku tak sempat menyempurnakan persahabatan. Namun jikapun besok aku bertemu, aku yakin aku tak mengenalnya dan dia juga tak akan mengenalku.
O ya,
tentang ketinggian. Aku hanya berharap kau segera sembuh, Nida. Karena aku ingin terbang bersamamu suatu hari. Hanya terbang saja. Menikmati segalanya dari atas. Tak hendak mengejar siapun dan apapun.
Nida, ingatkah kau tentang merpati?
Ah, tak terlalu penting mungkin. Hanya mengenai sepersekian hari dalam usiamu. Namun suatu hari aku akan mengajakmu ke taman yang penuh merpati. Kita berdiri bersama-sama di sana. Dan kau dapat sepuasnya menyentuh sayapnya.....
16 Juni 2009
Aku tak tau jelas, bahkan aku hanya menemukan sisa lembaran yang tak sengaja. Bukan banyak hal, hanya secarik nama.
Saat merpati datang, lalu terbang, saat segalanya masih saja tentang gelombang. Nida masih kecil, Nida tak punya sayap. Dan sampai kapanpun Nida tak akan punya sayap. Nida harus sadar, serendah apapun merpati terbang, Nida tetap tak bisa menyusulnya.
Nida tidak lupa, kan? Kalau seorang Nida masih takut pada ketinggian. Meski kini aku akan memberikan setengah jempol karena Nida telah lebih berani menatap ke bawah saat berada di ketinggian. Tak gemetar seperti dulu. Wah, Nida hebat. Tapi Nida harus sembuh total. Begitu harapanku. Agar suatu saat Nida bisa ikut menjamah ketinggian bersamaku.
Nida, bukan menjajah ingatanmu. Hanya aku teringat saja. Mengapa begitu banyak hal terjadi di kehidupan? Betapa banyak pemeran yang hadir dan melakonkan skenario tak terduga. Lalu semuanya sama saja, pergi. Terbang menghilang seperti merpati meninggalkan sisa kehancuran.
Apa kabar dia, ya?
Bahkan aku tak sempat menyempurnakan persahabatan. Namun jikapun besok aku bertemu, aku yakin aku tak mengenalnya dan dia juga tak akan mengenalku.
O ya,
tentang ketinggian. Aku hanya berharap kau segera sembuh, Nida. Karena aku ingin terbang bersamamu suatu hari. Hanya terbang saja. Menikmati segalanya dari atas. Tak hendak mengejar siapun dan apapun.
Nida, ingatkah kau tentang merpati?
Ah, tak terlalu penting mungkin. Hanya mengenai sepersekian hari dalam usiamu. Namun suatu hari aku akan mengajakmu ke taman yang penuh merpati. Kita berdiri bersama-sama di sana. Dan kau dapat sepuasnya menyentuh sayapnya.....
16 Juni 2009
Rock D' Ijoek
Hmm...
Aku tak ingat kapan pertama kalinya terjebak di tengah pusaran orang-orang unik seperti kalian. Yang aku tahu, segalanya dimulai pertengahan 2005. Saat aku diputuskan harus melanjutkan sekolah dan memilih sebuah sekolah menengah di Jalan H. Tgk Mohd. Daud Beureueh no 454.
Segalanya bermula dalam sebuah perjalanan yang kita namai "Expedition Of X-9". Kalian ingat? Di sebuah kelas kita terlempar di bagian sudut di lantai 2. Kita tak pernah mengakui kalau mereka menyebut kelas kita sebagai "KELAS UNGGUL".
Dimulailah hari-hari indah dan terkadang membingungkan itu. Berbagi udara bersama kalian setidaknya 9 jam dalam sehari. Aku tak ingat hal apa saja yang telah kita lakukan. Saat itu, kita belum terlalu mengenal satu sama lain. Semuanya jaim, khas anak SMA kelas X.
Kalian ingat kelas bilingual? Belajar rumus dengan bahasa Inggris. Ke MIPA desak-desakan naik bus super duper kecil. Dijejali tiga puluhan anak manusia lugu. Hehe..
Oya, Ibu Yus, di tahun pertama keberadaan kami, kau telah sepenuhnya menjadi seorang perempuan yang kemudian kami panggil "Mom".
Tahun kedua dimulai di sebuah kelas di lantai 1. Dinamai XI IA 7. Sejak itu, kita mulai memberinya nama Sapoe Ijoek "Satuan Poetra Poetri IPA Toejoeh Kerenz"..
Narsis sangat kali ya? Tapi mana narsis dengan julukan yang diberikan sama salah satu teman kita, si Mifta. JAMPOK!! Kalian ingat kepanjangannya?? Jaringan Anak Manusia Pintar dan OK..Hehe...
Dan di tahun ini, segalanya mulai tumbuh lebih rindang. Ada cinlok (ga usah disebutin sapa kan?)
Dan di tahun ini masalahpun mulai muncul. Kalian ingat Si C? Miss Bling-Bling?? Owh...NO.
Yang udah buat kita nangis sama Mami Diana di 22 Desember 2006. Hari Ibu, tapi kita warnai dengan acara nangis-nangis minta maaf. Maafin kami Mami Diana...
Puncaknya saat pengumuman pembubaran kelas unggul. Kalian ingat? Saat selepas upacara kita ga mau masuk kelas. Malah demo sama anak IPA 5 and IPA 6 minta unggul tetap dipertahankan susunan kelasnya. Ga mau dicampur aduk. Dan ternyata usaha kita berhasil..Duh, bahagianya.
Lalu bagaimana bisa muncul Rock D' Ijoek? Aku tak ingat. Ayolah, kalian ingatkan aku. ROMBONGAN CEWEK COWOK DI IPA TOEJOEH KERENZ. Masih saja narsis. hehe..
Tapi tak apa. Aku tetap bahagia pernah bersama kalian.
Tahun ketiga..
Seorang lelaki berhidung mancung, yang disebut Juju seorang dari Nederland hadir di sebuah kelas di samping lorong cinta. Dialah Abu, wali kelas untuk tahun itu. Bernama Pak Muhammad. Kita udah lebih dewasa tentunya. Udah kelas tiga, tahun terakhir. Namun Abu tak pernah menemani kita hingga selesai. Karena Abu harus pindah jadi kepala sekolah. Dan Ibu Linda lah penggantinya..
Hari-hari menjelang UAN, duh.. Aku rindu... Hari menyusun strategi perang. Hehe..
Dan akhirnya kita berhasil. ALHAMDULILLAH...
Kalian ingat? Saat-saat dulu. Kalian ingat saat kita jualan di kantin? Saat Reza bilang "BERI MAKAN" ke Ibu Sri? Saat Sayed dibilang bodoh sama Pak Joel Hud? Saat Maal dikejar karena bukain pintu buat kalian ang dikurung Pak Usman menjelang upacara? Saat kita naek pick up waktu disuruh lari Pak Milham di jam olah raga? Saat-saat main kasti? Saat anak cowok cabut ga masuk pelajaran biologi lalu dimarahin? Saat musikalisasi puisi? Saat drama? Saat-saat remedial satu kelas?Lalu kita stress dan nulisin definisi remedial menurut berbagai disiplin ilmu di papan tulis? Kalian ingat gimana perjuangan buat bazaar?Kalian ingat gimana tiga tahun berturut-turut kita kalah futsal? Ah, kalian..hehe Atau gimana beratnya tarik tambang?
Aku juga ingin berterimakasih dan minta maaf pada kalian, pada guru-guru semua.. Aku juga mau doain Alm. guruku Pak Hajiri. Maafin kami pak...
Hmm...
Apa lagi yang harus kutulis, teman-teman? Sungguh terlalu banyak hal yang telah kita lakukan. Satu hal yang perlu kalian tahu, sampai kapanpun aku sayang kalian. Aku kangen kalian sekarang. Kapan kita sama-sama lagi??
WAHAI IJOEKERZ?????
Dan di akhir, aku ingin kalian menyanyikan lagu kita.. Maksudku lagu BIP..
Ternyata Kita Harus Memilih..
Aku tak ingat kapan pertama kalinya terjebak di tengah pusaran orang-orang unik seperti kalian. Yang aku tahu, segalanya dimulai pertengahan 2005. Saat aku diputuskan harus melanjutkan sekolah dan memilih sebuah sekolah menengah di Jalan H. Tgk Mohd. Daud Beureueh no 454.
Segalanya bermula dalam sebuah perjalanan yang kita namai "Expedition Of X-9". Kalian ingat? Di sebuah kelas kita terlempar di bagian sudut di lantai 2. Kita tak pernah mengakui kalau mereka menyebut kelas kita sebagai "KELAS UNGGUL".
Dimulailah hari-hari indah dan terkadang membingungkan itu. Berbagi udara bersama kalian setidaknya 9 jam dalam sehari. Aku tak ingat hal apa saja yang telah kita lakukan. Saat itu, kita belum terlalu mengenal satu sama lain. Semuanya jaim, khas anak SMA kelas X.
Kalian ingat kelas bilingual? Belajar rumus dengan bahasa Inggris. Ke MIPA desak-desakan naik bus super duper kecil. Dijejali tiga puluhan anak manusia lugu. Hehe..
Oya, Ibu Yus, di tahun pertama keberadaan kami, kau telah sepenuhnya menjadi seorang perempuan yang kemudian kami panggil "Mom".
Tahun kedua dimulai di sebuah kelas di lantai 1. Dinamai XI IA 7. Sejak itu, kita mulai memberinya nama Sapoe Ijoek "Satuan Poetra Poetri IPA Toejoeh Kerenz"..
Narsis sangat kali ya? Tapi mana narsis dengan julukan yang diberikan sama salah satu teman kita, si Mifta. JAMPOK!! Kalian ingat kepanjangannya?? Jaringan Anak Manusia Pintar dan OK..Hehe...
Dan di tahun ini, segalanya mulai tumbuh lebih rindang. Ada cinlok (ga usah disebutin sapa kan?)
Dan di tahun ini masalahpun mulai muncul. Kalian ingat Si C? Miss Bling-Bling?? Owh...NO.
Yang udah buat kita nangis sama Mami Diana di 22 Desember 2006. Hari Ibu, tapi kita warnai dengan acara nangis-nangis minta maaf. Maafin kami Mami Diana...
Puncaknya saat pengumuman pembubaran kelas unggul. Kalian ingat? Saat selepas upacara kita ga mau masuk kelas. Malah demo sama anak IPA 5 and IPA 6 minta unggul tetap dipertahankan susunan kelasnya. Ga mau dicampur aduk. Dan ternyata usaha kita berhasil..Duh, bahagianya.
Lalu bagaimana bisa muncul Rock D' Ijoek? Aku tak ingat. Ayolah, kalian ingatkan aku. ROMBONGAN CEWEK COWOK DI IPA TOEJOEH KERENZ. Masih saja narsis. hehe..
Tapi tak apa. Aku tetap bahagia pernah bersama kalian.
Tahun ketiga..
Seorang lelaki berhidung mancung, yang disebut Juju seorang dari Nederland hadir di sebuah kelas di samping lorong cinta. Dialah Abu, wali kelas untuk tahun itu. Bernama Pak Muhammad. Kita udah lebih dewasa tentunya. Udah kelas tiga, tahun terakhir. Namun Abu tak pernah menemani kita hingga selesai. Karena Abu harus pindah jadi kepala sekolah. Dan Ibu Linda lah penggantinya..
Hari-hari menjelang UAN, duh.. Aku rindu... Hari menyusun strategi perang. Hehe..
Dan akhirnya kita berhasil. ALHAMDULILLAH...
Kalian ingat? Saat-saat dulu. Kalian ingat saat kita jualan di kantin? Saat Reza bilang "BERI MAKAN" ke Ibu Sri? Saat Sayed dibilang bodoh sama Pak Joel Hud? Saat Maal dikejar karena bukain pintu buat kalian ang dikurung Pak Usman menjelang upacara? Saat kita naek pick up waktu disuruh lari Pak Milham di jam olah raga? Saat-saat main kasti? Saat anak cowok cabut ga masuk pelajaran biologi lalu dimarahin? Saat musikalisasi puisi? Saat drama? Saat-saat remedial satu kelas?Lalu kita stress dan nulisin definisi remedial menurut berbagai disiplin ilmu di papan tulis? Kalian ingat gimana perjuangan buat bazaar?Kalian ingat gimana tiga tahun berturut-turut kita kalah futsal? Ah, kalian..hehe Atau gimana beratnya tarik tambang?
Aku juga ingin berterimakasih dan minta maaf pada kalian, pada guru-guru semua.. Aku juga mau doain Alm. guruku Pak Hajiri. Maafin kami pak...
Hmm...
Apa lagi yang harus kutulis, teman-teman? Sungguh terlalu banyak hal yang telah kita lakukan. Satu hal yang perlu kalian tahu, sampai kapanpun aku sayang kalian. Aku kangen kalian sekarang. Kapan kita sama-sama lagi??
WAHAI IJOEKERZ?????
Dan di akhir, aku ingin kalian menyanyikan lagu kita.. Maksudku lagu BIP..
Ternyata Kita Harus Memilih..
R U M I T
Tak hendak kujelaskan
Tak perlu tau, tak usahlah mengerti
Aneh, memang
Gerhana bersama hati
Segala hal berada di satu garis lurus
Jangan tanyakan dimana umbra dan yang mana penumbra
Gelapkan saja segalanya hingga benar-benar gelap
Hingga aku lelap
Tak, bukan sekejap ku berjingkat menuju
Selalu terhenti di setapak jalanku
Singkirkan batu,
namun aku bukanmu
Bukan yang mengetuk pintu untuk bertamu
Ya, gelapkan saja
Sepekat malam tanpa lentera
Segulitaku, setidakmengertianmu
Apa guna kefahaman?
Jika aku tergugu
Menyendiri di tepi kisahmu
Bukan aku penulisnya
Jadi tak bisa kureka akhir cerita
Aku hanya kata
Mungkin tak cukup syarat untuk diksimu
Atau mungkin tanda baca?
Entah..
Terserahmu
Gerhana?
Ketika dalam labirin
Gelapkan saja segelap-gelapnya
Mungkin akan tiba saatnya aku kecewa
Saat matahari kembali
Dan dapat kubaca cerita apa sebenarnya yang telah kau rangkai....
19 Juni 2009
Tak hendak kujelaskan
Tak perlu tau, tak usahlah mengerti
Aneh, memang
Gerhana bersama hati
Segala hal berada di satu garis lurus
Jangan tanyakan dimana umbra dan yang mana penumbra
Gelapkan saja segalanya hingga benar-benar gelap
Hingga aku lelap
Tak, bukan sekejap ku berjingkat menuju
Selalu terhenti di setapak jalanku
Singkirkan batu,
namun aku bukanmu
Bukan yang mengetuk pintu untuk bertamu
Ya, gelapkan saja
Sepekat malam tanpa lentera
Segulitaku, setidakmengertianmu
Apa guna kefahaman?
Jika aku tergugu
Menyendiri di tepi kisahmu
Bukan aku penulisnya
Jadi tak bisa kureka akhir cerita
Aku hanya kata
Mungkin tak cukup syarat untuk diksimu
Atau mungkin tanda baca?
Entah..
Terserahmu
Gerhana?
Ketika dalam labirin
Gelapkan saja segelap-gelapnya
Mungkin akan tiba saatnya aku kecewa
Saat matahari kembali
Dan dapat kubaca cerita apa sebenarnya yang telah kau rangkai....
19 Juni 2009
Aku dan hari-hari setelah kemarin
Tak akan ada yang terulang lagi. Karna setelah hari ini, kemarin tak akan datang lagi besok. Apa yang terjadi hari ini, itulah kenyataan. Sedang kemarin adalah masa lalu dan esok adalah harapan.
Entah hal apa yang telah berubah padaku, aku tak dapat tau sepenuhnya. Dan di sisi langit mana aku akan menyaksikan matahari ditahun depan, bagaimana bisa aku memastikan. Maka aku biarkan saja segalanya berjalan. Jika sekarang, aku hanya menjadi bagian dari keputusan. Dan aku harus menerimanya karna aku telah memilih. Inilah konsekwensi dari sebuah pilihan.
Maka, doakanlah aku. Dan biarkan kerinduan pada tanahku bersemayam hingga waktu yang tak terhingga. Sampaikan salamku padanya, hiruplah udaranya untukku dan dekaplah segala hal indah tentangnya bagiku....
7 Apr 09
Entah hal apa yang telah berubah padaku, aku tak dapat tau sepenuhnya. Dan di sisi langit mana aku akan menyaksikan matahari ditahun depan, bagaimana bisa aku memastikan. Maka aku biarkan saja segalanya berjalan. Jika sekarang, aku hanya menjadi bagian dari keputusan. Dan aku harus menerimanya karna aku telah memilih. Inilah konsekwensi dari sebuah pilihan.
Maka, doakanlah aku. Dan biarkan kerinduan pada tanahku bersemayam hingga waktu yang tak terhingga. Sampaikan salamku padanya, hiruplah udaranya untukku dan dekaplah segala hal indah tentangnya bagiku....
7 Apr 09
Selamat malam kerinduan
Izinkan aku memeliharamu hingga batas waktu yang tiada aku tau
Dan kali ini,
Aku telah menjadi saksi
Lagi,
Atas hadirnya purnama di bawah sisi langit yang berbeda
Kuawali lagi hitungannya dari satu
Namun aku tak dapat menaksir atau sekedar menerka
Dimana ujung perjalanan kali ini
Selamat malam kerinduan
Biarkan aku menjaga cintanya dan cinta mereka
Dengan cara dan jalanku sendiri
Usah kau heran
Jika aku membalas sapamu
Dengan tangisan dalam diam
Karena hatiku masih terlalu lemah
Untuk berdiri di sini
Di antara masa lalu dan masa depan….
Titi Kuning, 9 April 2009
Purnama kedelapan sejak kepergianku…
Nida An_Khafiyya
Izinkan aku memeliharamu hingga batas waktu yang tiada aku tau
Dan kali ini,
Aku telah menjadi saksi
Lagi,
Atas hadirnya purnama di bawah sisi langit yang berbeda
Kuawali lagi hitungannya dari satu
Namun aku tak dapat menaksir atau sekedar menerka
Dimana ujung perjalanan kali ini
Selamat malam kerinduan
Biarkan aku menjaga cintanya dan cinta mereka
Dengan cara dan jalanku sendiri
Usah kau heran
Jika aku membalas sapamu
Dengan tangisan dalam diam
Karena hatiku masih terlalu lemah
Untuk berdiri di sini
Di antara masa lalu dan masa depan….
Titi Kuning, 9 April 2009
Purnama kedelapan sejak kepergianku…
Nida An_Khafiyya
Labirin Hati..
Apakah aku telah terjebak lagi??
Aku tak tau, Nida...
Tau apa aku tentang hatimu?
Aku juga bingung....
Apa sebenarnya yang terjadi?
Lagi-lagi..
Terusik nuansa...
Akukah yang bersalah, Nida?????
15 Apr 09
Aku tak tau, Nida...
Tau apa aku tentang hatimu?
Aku juga bingung....
Apa sebenarnya yang terjadi?
Lagi-lagi..
Terusik nuansa...
Akukah yang bersalah, Nida?????
15 Apr 09
Puisikan Sesuatu Untukku..
Biarkan mengalir sebagaimana yang engkau bisa
Sisipkan aku di antara bait-baitmu
Dan berilah izin pada kata-katamu untuk mengembara menyusuri barisku
Bahasakanlah aku dalam puisimu
Larutkan aku dalam syairmu
Sekali ini saja,
sapalah aku dengan puisimu......
30 April 09
Sisipkan aku di antara bait-baitmu
Dan berilah izin pada kata-katamu untuk mengembara menyusuri barisku
Bahasakanlah aku dalam puisimu
Larutkan aku dalam syairmu
Sekali ini saja,
sapalah aku dengan puisimu......
30 April 09
Ada Rahmat di Setiap Tetesnya..
Titik-titiknya membasahi bumi tempatku berpijak. Jilatan kilat menakutiku lewat jendela. Petir, ah.. Lagi-lagi aku yang harus terkaget-kaget. Aku tau, di setiap titik yang sedang turun itu, ada jutaan rahmat dari Tuhanku, untuk kita. Ya, kita semua tanpa terkecuali.
Tiba-tiba aku teringat tanahku. Tersampai kabar padaku,betapa telah begitu lama tak terbasahi. Hanya ada panas dan panas. Tapi setiap orang juga harus mengakui, bahwa di setiap molekul panas itu juga terdapat jutaan rahmat dari Tuhanku, untuk kita. Ya, untuk kita.
Hujan kali ini turun begitu derasnya dari langit tempat ku bernaung. Aku tak tau, apakah Allah memerintahkan dia turun di tanahku. Yang aku tau, hari ini bumi semakin tua. Dunia tak lama lagi. Bagaimana kita esok? Siapa yang bisa menjelaskan.
Segala kerusakan telah terjadi. Terjamah menjadi luka-luka yang terabaikan. Saat manusia semakin liar dalam mengelola nafsunya, maka bukankah Allah masih terlalu baik pada kita? Betapa Dia masih akan selalu melimpahkan rahmatnya setiap waktu..
Maka bersabar dan bersyukurlah. Nikmati dan ambillah pelajaran yang tersisip di antara celah-celah hari. Semoga Allah senantiasa merahmati, meridhai, dan memberkahi segala yang kita lakukan...
Cintailah Dia dan segala ciptaanNya...
Aamiiin.....
1 Mei 09
Tiba-tiba aku teringat tanahku. Tersampai kabar padaku,betapa telah begitu lama tak terbasahi. Hanya ada panas dan panas. Tapi setiap orang juga harus mengakui, bahwa di setiap molekul panas itu juga terdapat jutaan rahmat dari Tuhanku, untuk kita. Ya, untuk kita.
Hujan kali ini turun begitu derasnya dari langit tempat ku bernaung. Aku tak tau, apakah Allah memerintahkan dia turun di tanahku. Yang aku tau, hari ini bumi semakin tua. Dunia tak lama lagi. Bagaimana kita esok? Siapa yang bisa menjelaskan.
Segala kerusakan telah terjadi. Terjamah menjadi luka-luka yang terabaikan. Saat manusia semakin liar dalam mengelola nafsunya, maka bukankah Allah masih terlalu baik pada kita? Betapa Dia masih akan selalu melimpahkan rahmatnya setiap waktu..
Maka bersabar dan bersyukurlah. Nikmati dan ambillah pelajaran yang tersisip di antara celah-celah hari. Semoga Allah senantiasa merahmati, meridhai, dan memberkahi segala yang kita lakukan...
Cintailah Dia dan segala ciptaanNya...
Aamiiin.....
1 Mei 09
hmm...
Selamat pagi, dunia. Maaf aku membangunkanmu sepagi ini. Baru saja kusempurnakan pertemuan dalam tiga belas rukun Nya. Semoga Dia senantiasa memaafkanku.
Dunia, kembali dia mengusik melody hidupku sepagi ini. Bukankah sejak pertama telah kukatakan? Apakah terlalu dewasa kata-kata yang lahir dari mulut kanak-kanakku? Sehingga ia tak dapat menerjemahkannya sejak dulu. Bukankah telah kubahasakan dengan segala yang paling sederhana? Allah, apakah hamba bersalah dalam hal ini? Bukankah tidak selamanya keinginan harus terwujud? Dan bukankah perasaan tak boleh dipaksakan?
Duh... Semoga ini kali terakhir dia mengusik hati beliaku. Menanyakan pertanyaan yang harus kujawab dengan bahasaku yang paling halus. Tapi mengapa dia tak pernah mengerti?
Allah, maafkan hamba. Dan semoga saja dia berhenti sampai di sini...
8 Mei 2009,
01:10 a.m
salahkah aq menjawab seperti itu?
Dunia, kembali dia mengusik melody hidupku sepagi ini. Bukankah sejak pertama telah kukatakan? Apakah terlalu dewasa kata-kata yang lahir dari mulut kanak-kanakku? Sehingga ia tak dapat menerjemahkannya sejak dulu. Bukankah telah kubahasakan dengan segala yang paling sederhana? Allah, apakah hamba bersalah dalam hal ini? Bukankah tidak selamanya keinginan harus terwujud? Dan bukankah perasaan tak boleh dipaksakan?
Duh... Semoga ini kali terakhir dia mengusik hati beliaku. Menanyakan pertanyaan yang harus kujawab dengan bahasaku yang paling halus. Tapi mengapa dia tak pernah mengerti?
Allah, maafkan hamba. Dan semoga saja dia berhenti sampai di sini...
8 Mei 2009,
01:10 a.m
salahkah aq menjawab seperti itu?
Purnama Kesembilan
Mengapa kau datang dalam persembunyian?
Saat aku akan mengganjilkan hitunganmu menjadi sembilan..
Betapa aku ingin menatapmu,
namun ternyata,hanya ada kelabu menggantung,
menyelimuti jelitamu..
Menghalangi mataku menatap pesonamu
Semoga tak sekelabu itu yang menggelayuti hatiku...
Titi Kuning, 9 Mei 2009
Saat aku akan mengganjilkan hitunganmu menjadi sembilan..
Betapa aku ingin menatapmu,
namun ternyata,hanya ada kelabu menggantung,
menyelimuti jelitamu..
Menghalangi mataku menatap pesonamu
Semoga tak sekelabu itu yang menggelayuti hatiku...
Titi Kuning, 9 Mei 2009
Maka Bersyukurlah, Nida...
Hari ini 15 Mei 2009...
19 tahun, 4 bulan, 3 hari. Bukan waktu yang singkat untuk sebuah kehidupan yang serba gratis, Nida. Bayangkan sudah berapa banyak udara yang kau habiskan, berapa banyak air yang kau gunakan, berapa banyak siang yang kau lalui dan berapa banyak malam yang menyelimutimu.
Pernahkah kau berpikir, Nida? Betapa Allah memberikanmu kehidupan yang lebih dari sekedar kata layak? Betapa begitu baiknya Dia membuatmu terlahir dari pasangan ayah bunda yang begitu mencintaimu. Memberimu saudara-saudara yang akan selalu menjagamu, dan teman-teman yang tak pernah berhenti menyayangimu.
Berapa jauh bumi yang tiap harinya kau berjalan di atasnya. Berapa banyak angin yang menyejukkanmu, berapa luas langit yang menaungimu??
Pernahkah kau hitung berapa, sayang??
Dapatkah suatu saat kau membalasnya?
Tak akan pernah, Nida..Tidak, sayang...
Hari ini saja, kau tak dapat mengkalkulasinya. Berapa kasih sayang yang telah Allah selipkan sepagi ini..
Maka bersyukurlah, Nida..
Atas segalanya..
Atas kebahagiaan yang membuatmu tersenyum, atas kesedihan yang membuatmu menangis, atas cobaan yang membuatmu jauh lebih mengerti peranmu sebagai hamba yang dhaif...
Maka bersyukurlah, Nida..
Karena meski hari masih pagi, Allah telah membekalimu dengan selaksa kenikmatan yang tiada perlu kau bayar...
Terima kasih, Allah................
19 tahun, 4 bulan, 3 hari. Bukan waktu yang singkat untuk sebuah kehidupan yang serba gratis, Nida. Bayangkan sudah berapa banyak udara yang kau habiskan, berapa banyak air yang kau gunakan, berapa banyak siang yang kau lalui dan berapa banyak malam yang menyelimutimu.
Pernahkah kau berpikir, Nida? Betapa Allah memberikanmu kehidupan yang lebih dari sekedar kata layak? Betapa begitu baiknya Dia membuatmu terlahir dari pasangan ayah bunda yang begitu mencintaimu. Memberimu saudara-saudara yang akan selalu menjagamu, dan teman-teman yang tak pernah berhenti menyayangimu.
Berapa jauh bumi yang tiap harinya kau berjalan di atasnya. Berapa banyak angin yang menyejukkanmu, berapa luas langit yang menaungimu??
Pernahkah kau hitung berapa, sayang??
Dapatkah suatu saat kau membalasnya?
Tak akan pernah, Nida..Tidak, sayang...
Hari ini saja, kau tak dapat mengkalkulasinya. Berapa kasih sayang yang telah Allah selipkan sepagi ini..
Maka bersyukurlah, Nida..
Atas segalanya..
Atas kebahagiaan yang membuatmu tersenyum, atas kesedihan yang membuatmu menangis, atas cobaan yang membuatmu jauh lebih mengerti peranmu sebagai hamba yang dhaif...
Maka bersyukurlah, Nida..
Karena meski hari masih pagi, Allah telah membekalimu dengan selaksa kenikmatan yang tiada perlu kau bayar...
Terima kasih, Allah................
Langganan:
Postingan (Atom)








