Di mataku ada bayangannya
Di kepalaku ada belaiannya
Di tubuhku ada sentuhannya, dekapnya, segalanya
Di dalam tubuhku mengalir darahnya
Di hatiku memancar perasaannya
Di sikapku mencerminkan sifatnya
Bunda adalah yang menghangatkan hari dengan cinta
Bunda adalah yang menguatkan di saat lemah
Bunda adalah yang menyemangati di saat rapuh
Bunda adalah yang pertama tersenyum atas setiap kebahagiaanku
Bunda yang membuatkan susu, menungguku habis meminumnya
Bunda yang berdiri di pintu untuk mengantarkan pagiku menuju sekolah
Bunda yang menghulurkan tangan untuk kucium
Bunda yang menitipkan harap untuk kurangkul
Bunda yang tak pernah marah
Bunda yang tangannya tak pernah melukai
Bunda yang senyumnya menghangatkan hati
Bunda yang mengajariku segala
Bunda yang membimbingku melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga
Bunda yang mengatakan kalau anak perempuan harus bisa pekerjaan tangan
Karena tak selamanya kau akan menikah dengan seseorang yang berada
Bunda yang menjahitkan baju lebaran sesuai keinginanku
Bunda yang menuruti hampir segala kemauanku
Bunda yang tak pernah marah padaku
Walaupun aku mungkin telah menyakitinya
Bunda yang mengajariku ikhlas
Melakukan segala tanpa mengharap balas
Bunda yang berpesan agar aku selalu baik pada setiap orang
Bahkan yang menjahatiku sekalipun
Bundaku,
Bukan seperti yang lain mungkin
Bundaku hanya tinggal di rumah untuk mengabdi pada suami
Bunda yang bersedia meninggalkan pekerjaan karena Ayah yang meminta
Karena perempuan harus taat pada suami
Bundaku,
Yang tak akan menangis di depanku
Karena aku harus kuat sepertinya
Bundaku,
Yang menyuapi di kala sakit
Yang menyisirkan rambut di saat aku tak sanggup bahkan untuk memegang sisir
Bundaku,
Yang menanyakan dengan lauk apa aku makan hari ini
Bundaku,
Yang mengisi hatiku dengan cintanya
Bundaku,
Segalanya bagiku
Bundaku,
Aku mencintainya karena Allah
Bundaku,
saat ini aku merindu
Selamat ulang tahun
Bundaku,
Putri semata wayangmu sudah beranjak dewasa
Engkau telah mengabulkan hampir seluruh permintaannya
Bolehkah dia meminta satu hal kini?
Tentang penantian enam puluh purnama.........
Selamat Ulang Tahun Bunda Tercinta
Ternyata Bundaku semakin tua
Sedang aku belum bisa membahagiakannya.........
Maafkanlah aku, Bunda......
Putrimu,
NiDa...
Selasa, 09 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar