Powered By Blogger

Selasa, 09 Februari 2010

Benar-benar seperti cuaca.
Bagaimana bisa menjadi sandaran.
Tiada tetap, tiada.
Berubah terus dan terus.
Dan batas-batasku mungkin samar yang terlihat.
Memang tak tau adanya.
Bagaimana bisa.
Bahkan cahaya saja tak dapat membaca.
Apa lagi seorang hawa yang tak dapat sekedar mengetuk jiwa.

Mungkin pula jam pasir yang terus dibalikkan.
Namun masih bisa kau terka di mana bermuara.
Terlalu kejamkah jika aku mengatakan bahwa kau tak bisa mengelola?
Ah, siapa aku?
Terlalu angkuh kureka pribadi.
Sejak kapan pula aku lebih baik darinya.
Haha.
Seharusnya aku tertawa.
Menyadari gandanya wajah dunia.
Balikkan saja sesuka hatimu.

Toh aku bukan siapa-siapa.
Aku sudah biasa.
Jatuh terjengkang dan bangun sendiri.
Putar-putarkan saja.
Aku masih kuat.
Aku tak menangis di depan mata bukan?
Jadi tak usahlah segan.
Selama masih bisa.
Lakukan saja.
Aku memang tak pernah terbaca oleh cahaya.

Tapi aku punya cinta.
Dan bibirku masih selalu bisa kutarik menyungging senyum tanpa sepotong paksa.
Aku punya ALLAH.
Aku punya segalanya.
Karena ALLAH selalu memberinya.

9 des 09

Tidak ada komentar:

Posting Komentar