Kubuat ini atas nama seseorang. Tapi aku tak akan pernah menyebutkannya di sini. Biarkan hanya Allah yang tau, serta aku dan dia yang mengerti.
Aku tak ingat berapa banyak janji yang telah terucap di antara kami. Dan bagaimana bisa aku memastikan, bahwa segala itu akan bisa tertepati pada saatnya. Dan kali ini, biar aku yang menepati janjiku padanya. Janji yang terucap begitu saja. Dan ternyata dia menagihnya. Dan aku akan menepati. Tak perlu dia menunggu hingga suatu waktu. Seperti dia memintaku menunggu. (Tak bermaksud menyindir nie...hehe).
Bermula dari sepatah kalimat. Entah, aku tak tau bagaimana bisa dia mendapatkan kalimat itu. Katanya muncul begitu saja di suatu malam. Kalimat yang akan selalu dia keluarkan untukku. Ah, dasar penggoda. Begitu aku menamainya.
Dan kalimat itu, membuatku harus memikirkan apa isi dari catatan ini. Dan biarlah aku menamainya catatan janji. Karena dia harus tau, dia yang lebih banyak mengucapkan janji padaku. Biar kuhitung, satu, dua, tiga, entah berapa sudah. (hehe, bener kan? tak terhitung lagi janjimu). Apa saja, bahkan dia pernah berjanji memetik bintang untukku. Bintang paling terang, najmu tsaqib. (begitu, kan?)
Tapi tak mengapa. Aku tak marah padanya. Paling tidak dia mendukungku untuk mewarnai pelangi. Dan bila memang aku bisa, janjiku mencantumkan namanya di sana. Di pelangi itu.
Biarkan saja orang-orang bingung, aku tak peduli. Dan saat dia membaca ini, apakah dia akan tersinggung? Ah, aku rasa tidak.
Hey, apa kabar hatinya? Langitnya?
Dan apa kabar janjinya?
Meminjam kata-kata Khaleed Hossaini dalam The Kite Runner,
aku akan tersenyum untuknya (^_^)
Untukmu, yang keseribu kalinya.....
3 Juni 2009
Selasa, 09 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar