Powered By Blogger

Selasa, 09 Februari 2010

Hujan selalu menyuburkan kerinduan terhadap rumah. Jika hujan turun, dan aku tak berada di rumah, Bunda pasti akan menghubungiku. Menanyakan dimana keberadaan puterinya. Dan aku akan selalu berusaha sebisa mungkin untuk tiba di rumah secepatnya. Kalian tau kenapa? Karena salah satu ritual yang paling aku suka saat hujan adalah berdiri di depan jendela dan memandang rintik-rintiknya.
Jika hujan turun tengah malam, lalu ada petir, Bunda pasti akan membuka pintu kamarku dan bertanya, berani tidur sendiri? Dan aku tentu saja memilih tidur dengan ditemani Bunda karena aku takut petir.
Jika hujan turun di sore hari, Bunda pasti akan menyiapkan makanan kecil untuk kami. Bunda akan menunggu kami pulang. Jika kami kehujanan, Bunda akan segera menyodorkan handuk dan pakaian kering. Jika hujan turun, Ayah dan Bunda tak ada di rumah, maka aku akan menghubungi berulang kali. Memastikan mereka baik-baik saja.
Dan sekarang, langitku berbeda dengan langit Bunda dan langit Ayah. Jika hujan, aku melihat rintiknya sendiri. Aku mensyukurinya dalam sepi. Jika hujan turun, aku tak akan menemui Bunda yang menungguku pulang.
Dan sekarang, aku benar-benar merindukan Bunda dan Ayah. Aku rindu suara mereka. Aku rindu nasehat mereka. Aku rindu kasih sayang mereka. Aku rindu cinta mereka. Yang selalu menganggapku penting. Aku rindu segalanya.
Dan aku selalu mengingat setiap kata dari mereka. Aku sedang rapuh. Aku rindu Bunda dan Ayah. Karena tak ada seorangpun yang dapat menggantikan kedudukan mereka. Dan tak ada seorangpun yang bisa melebihi kasih sayang mereka kepadaku.
Terima kasih, Allah..
Untuk Ayah dan Bunda tercinta...

9 Juli 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar