Terlalu banyak hal sepertinya yang berubah di rumah. Begitu kan, Bunda? Tak ada gadis kecilmu yang biasanya malas (hehe). Tak ada meriah menunggu Tante Hasni pulang bersama keluarganya untuk meugang bersama. Nenek tak perlu sibuk kan, Bunda? Karena Tante Hasni ga akan pernah pulang lagi. Tak ada salam di pintu depan, lalu jabatan tangan sambil mencium tangan kecil putihnya.
Ayah, sudah tiba di rumah? Sudah dua Ramadhan nanda tak membangunkanmu ketika sahur. Lalu pergi, sebelum ayah benar-benar bangun. Ayah sih, malas sekali bangun.. Hehe.. Maaf Ayah.
Adikku Ibul, tak ada kakak yang suka marah-marah. Marah karena adek malas. Marah karena adek ga mau ke mesjid, karena adek bantah Bunda. Apa terasa rindu untuk kakak? Kakak yang mungkin ga pernah jadi kakak yang baek...
Adikku Mamay..
Pasti udah sanggup puasa penuh kan? Wah, kakak ga bisa marahin adek lagi karena adek suka gangguin orang buka puasa. Suka ngambil-ngambil kue kakak.
Dek, kalian jagain Ayah ma Bunda ya..
Jagain nenek juga..
Oya, sekarang ada Ila ya?
Baek-baek sama Ila. Ila itu juga adik kita.
Bunda, jangan sedih.
Ayah sama Nenek juga..
Nida baek koq di sini. InsyaAllah lebaran Nda pulang.
Dan aku merindukan malam-malam tarawih di Mesjid itu. Aku merindukan buka puasa bersama di rumah kecil kita. Aku merindukan suasana pengajian dan ceramah-ceramah. Aku rindu saat-saat malas ke mesjid, lalu shalat di rumah bersama Ayah dan Bunda. Aku rindu bantuin Nenek masak daging. Aku rindu semuanya. Tanpa terkecuali.
Namun rinduku tercekat. Bukan karena ada yang mencegat.
Salam Ramadhan dariku
Yang menjalaninya di sini. Tak sendiri, memang. Hanya suasana lain.
Salam Ramadhan Ayah, Bunda, dan semua..
Salam rindu untuk Desa Lamnga..
Salam bangga kepada Aceh....
Semoga Ramadhan ini penuh berkah...
Tunggu aku pulang...
20 Agustus 2009
Selasa, 09 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar